11 Mac 2009

Pertemuan Dengan Pak Lah


Oleh Anwar Ibrahim

Terlalu banyak andaian dan tafsiran mengenai kehadhiran saya dan Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Badawi di Hulu Langat tengah hari tadi.

Saya dijadual ke Madrasah Nurul Iman untuk sambutan Maulidur Rasul dan meraikan Tuan Guru Sheikh Mahmud. Di antara tetamu adalah ulama’ dari Indonesia, Gambia, India, Patani dan lain-lain. Turut sama adalah ketua sami Buddha dari Bangkok serta bekas Timbalan Perdana Menteri dan Menteri Kehakiman Thailand Profesor Dr. Bhokin.

Saya dan Azizah terlambat tiba kerana terpaksa melayani karenah dan drama di Mahkamah Tinggi termasuk urusan ikat jamin!

Sebaik menghampiri kawasan madrasah, saya diberitahu Datuk Seri Abdullah telah pun tiba. Saya disambut Sheikh Mahmud dan menjamah hidangan bersama Datuk Seri Abdullah, Profesor Bhokin dan para ulama’ yang hadhir.

Kami dapat ngobrol biasa untuk seketika. Selesai bersama berjemaah Zuhur, kami berlepas ka Parlimen.



Kenyataan Dr Mohd Asri Berhubung Isu Nama Allah

Oleh Dr MAZA

Saya bukan jawatankuasa PAS, atau orang Kelantan, namun bagi saya sesiapa yang menempelak kenyataan YAB MB Kelantan tentang isu nama Allah adalah mereka yang kurang jelas tentang akidah Islam, atau mempertahankan apa yang mereka tidak faham.

Saya telah tulis isu ini lebih setahun yang lalu dalam artikel saya yang disiarkan dalam MM bertajuk BEZA ANTARA MEREBUT NAMA ALLAH DAN MEMPERTAHANKAN AKIDAH. Saya telah kemukakan hujah dan alasan bahawa mereka boleh memanggil Tuhan dengan ‘Allah’. Al-Quran dan Sunnah membenarkannya. Akidah bukan diukur dengan panggilan, tetapi dengan membezakan antara tauhid dan syirik.

Majlis Fatwa Perlis semasa saya menjadi mufti membuat keputusan sebulat suara keharusan bukan muslim memanggil Tuhan dengan panggilan Allah. Jangan kita nak divert isu politik, kita bangkit isu agama, nanti agama menjadi mangsa permainan manusia.

Saya nasihat kepada yang bising isu ini, jika nak berjihad, biarlah kena pada tempatnya.. Ini bukan isu yang patut kita bertarung kerananya. Jika ingin melarang bukan muslim guna nama Allah jangan sebut Islam melarang tetapi beritahu mereka peraturan Kerajaan Malaysia melarangnya atas sebab-sebab tertentu.

Jangan jadikan isu agama nanti mereka hairan lain al-Quran cakap, lain pihak yang memakai jenama agama cakap. Apa yang patut JAKIM fikirkan adalah bagaimana cara agar bukan muslim dalam negara kita lebih faham dan suka dengan Islam” Dr MAZA



07 Mac 2009

Mono

Pada suatu hari di abad ke-7, dua orang Madinah bertengkar. Yang satu Muslim dan yang satu lagi Yahudi. Yang pertama mengunggulkan Muhammad SAW ”atas sekalian alam”. Yang kedua meng­unggulkan Musa. Tak sabar, orang Muslim itu menjotos muka Si Yahudi.

Orang Yahudi itu pun datang mengadu ke Nabi Muhammad, yang memimpin kehidupan kota itu. Ia ceritakan apa yang terjadi. Maka Rasulullah pun memanggil Si Muslim dan berkata:

”Janganlah kau unggulkan aku atas Musa. Sebab di hari kiamat semua umat jatuh pingsan, dan aku pun jatuh pingsan bersama mereka. Dan akulah yang pertama bangkit dan sadar, tiba-tiba aku lihat Musa sudah berdiri di sisi Singgasana. Aku tidak tahu, apakah ia tadinya juga jatuh pingsan lalu bangkit sadar sebelumku, ataukah dia adalah orang yang dikecualikan Allah”.

Riwayat ini dikutip dari Shahih Muslim, Bab Min Fadla’il Musa. Dalam buku Abd. Moqsith Ghazali yang terbit pekan lalu, Argumen Pluralisme Agama, hadis itu dituturkan kembali sebagai salah satu contoh pandangan Islam tentang agama yang bukan Islam, khususnya Yahudi dan Kristen.

Pada intinya, Moqsith, sosok tenang dan alim yang mengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini, datang dengan pendirian yang kukuh: Islam adalah ”sambungan—bukan musuh—dari agama para nabi sebelumnya”, yang sering disebut sebagai agama-agama Ibrahimi.

Tapi yang bagi saya menarik adalah kata-kata Muhammad SAW yang dikutip di sana: ”Janganlah kau unggulkan aku atas Musa”, dan, ”aku tidak tahu…”.

Kini kata-kata itu tenggelam. Kini sebagian ulama me­rasa di atas Rasulullah: mereka merasa tahu keunggulan diri mereka. Mereka akan membenarkan Si Muslim yang memukul Si Yahudi. Mereka bahkan mendukung aniaya terhadap orang yang ”menyimpang”, walaupun orang lain itu, misalnya umat Ahmadiyah, membaca syahadat Islam.

Dari mana datangnya kekerasan itu?

Saya sering bingung. Satu kalimat suci terkadang bisa membuat orang jadi lembut, tapi satu kalimat lain dari sumber yang sama bisa menghalalkan pembunuhan.

Mungkin pada mulanya bukanlah agama. Agama, seperti banyak hal lain, terbangun dalam ambiguitas. Dengan perut dan tangan, ambiguitas itu diselesaikan. Tafsir pun lahir, dan kitab-kitab suci berubah peran, ketika manusia mengubah kehidupannya. Yang suci diputuskan dari bumi. Pada mulanya bukanlah Sabda, melainkan Laku.

Tapi juga benar, Sabda punya kesaktiannya sendiri setelah jadi suci; ia bisa jadi awal sebuah laku. Kekerasan tak meledak di sembarang kaum yang sedang mengubah sejarah. Ia lebih sering terjadi dalam sejarah Yahudi, Kristen, dan Islam: sejarah kepercayaan yang berpegang pada Sabda yang tertulis. Pada gilirannya kata-kata yang direkam beku dalam aksara itu menghendaki kesatuan tafsir.

Kesatuan: jangan-jangan mala itu datang dari angka ”satu”—dan kita harus bebas dari the logic of the One.

Kata ini dipakai Laurel C. Schneider dalam Beyond Monotheism. Pakar theologi itu menuding: ”Oneness, as a basic claim about God, simply does not make sense.” Dunia sesungguhnya melampaui ke-satu-an dan totalitas.

Schneider menganjurkan iman berangkat ke dalam ”multiplisitas”—yang tak sama artinya dengan ”banyak”. Kata itu, menurut dia, mencoba menamai cara melihat yang luwes, mampu menerima yang tak terduga tak ber­hingga.

Tapi Schneider, teguh dalam tradisi Ibrahimi, mene­gaskan ”multiplisitas” itu tak melenyapkan yang Tunggal. Yang Satu tak hilang dalam multiplisitas, hanya ambyar sebagaimana bintang jatuh tapi sebenarnya bukan jatuh melainkan berubah dalam perjalanan benda-benda planet­er.

Dengan kata lain, tetap ada ke-tunggal-an yang membayangi tafsir kita. Bagaimana kalau terbit intoleransi monotheisme kembali?

Saya ingat satu bagian dalam novel Ayu Utami, Bilang­an Fu. Ada sebuah catatan pendek dari tokoh Parang Jati yang bertanya: ”Kenapa monotheisme begitu tidak tahan pada perbedaan?” Dengan kata lain, ”anti-liyan”?

Pertanyaan itu dijawab di catatan itu juga: sikap ”anti-liyan” itu berpangkal pada ”bilang­an yang dijadikan me­tafora bagi inti falsafah masing-masing”. Monotheisme menekankan bilang­an ”satu”. Agama lain di Asia bertolak dari ke­tia­daan, kekosongan, sunyi, shunyat, shunya, se­­kaligus keutuhan. ”Konsep ini ada pada bilang­an nol,” kata Parang Jati.

Bagi Parang Jati, agama Yahudi, pemula tradisi monotheisme, tak mampu menafsirkan Tuhan sebagai Ia yang terungkap dalam shunya, sebab monotheisme ”dirumuskan sebelum bilangan nol dirumuskan”.

Ada kesan Parang Jati merindukan kembali angka nol, namun ia tak begitu jelas menunjukkan, di mana dan bila kesalahan dimulai. Ia mengatakan, setelah bilangan nol ditemukan, manusia pun kehilangan kualitas yang ”puitis”, ”metaforis” dan ”spiritual” dalam menafsirkan firman Tuhan. ”Ketika nol belum ditemukan,” tulis Parang Jati, ”sesungguhnya bilangan tidaklah hanya matematis.”

Dengan kata lain, mala terjadi bukan karena angka satu, melainkan karena ditemukannya nol. Tapi Parang Jati juga menunjukkan, persoalan timbul bukan karena penemuan nol, melainkan ketika dan karena ”shunya menjadi bilangan nol”.

Salahkah berpikir tentang Tuhan sebagai nol? Salahkah dengan memakai ”the logic of the One”?

Di sebuah pertemuan di Surabaya beberapa bulan yang lalu saya dapat jawab yang mencerahkan. Tokoh Buddhis­me Indonesia, Badhe Dammasubho, menunjukkan bahwa kata ”esa” dalam asas ”Ketuhanan yang Maha Esa” bukan sama dengan ”eka” yang berarti ”satu”. Esa berasal dari bahasa Pali, bahasa yang dipakai kitab-kitab Buddhisme. Artinya sama dengan ”nirbana”.

Setahu saya, ”nirbana” berarti ”tiada”. Bagi Tuhan, ada atau tak ada bukanlah persoalannya. Ia melampaui ”ada”, tak harus ”ada”, dan kita, mengikuti kata-kata Rasulullah, ”aku tidak tahu”.

~Majalah Tempo Edisi 02 Maret 2009~


06 Mac 2009

KEMELUT POLITIK DI PERAK: MAKNA, IMPLIKASI DAN IKTIBARNYA

Oleh: Kassim Ahmad
13 Februari, 2009

Kejatuhan Kerajaan Pakatan Rakyat dan kenaikan kembali Kerajaan BN di Perak melambangkan pergeseran sengit antara dua tenaga politik-sosial di negara kita untuk menguasai bangsa dan negara Malaysia. Aliran ini sudah bermula sejak Pilihanraya Umum ke-12 pada 28 Mac, 2008.

Sebelum ini, selama 50 tahum lebih, UMNO-Periktaan dan kemudian UMNO-Barisan Nasional, tidak pernah gagal menguasai Kerajaan Pusat dengan majoriti lebih dua-pertiga. Dalam masa ini, UMNO-Perikatan dan UMNO-BN hilang kuasa di negeri-negeri Kelantan, Pulau Pinang dan Terengganu.

Apakah yang menyebabkan kekalahan undi dua-pertiga di Pusat dan kekalahan di lima buah negeri oleh UMNO-BN dalam Pilihanraya Umum ke-12? Tiga faktor memainkan peranannya. Pertama, faktor kelemahan dalaman UMNO-BN sendiri kerana rasuah dan rebutan kuasa dalam UMNO-BN, termasuk kenaikan harga barang-barang keperluan. Kedua, faktor keruntuhan sistem kapitalis-liberal di pusatnya di Amerika dan Eropah Barat, dan keruntuhan ini melibatkan negara kita yang menjadi sebagian daripada sistem itu. Faktor ketiga: peranan Internet yang menawarkan sumber maklumat dan analisis yang bebas yang tidak diperoleh daripada media cetak yang terbatas oleh oleh undang-undang yang mengongkong.

Jelas sekali bahawa rakyat Malaysia mahukan perubahan yang dijanjikan oleh pakatan pembankang, sekarang terkenal dengan nama Pakatan Rakyat, terdiri dari PKR, DAP dan PAS. Keputusan dua pilihanraya kecil di Permatang Pauh dan Kuala Terengganu memperkuatkan lagi aliran perubahan ini.

Apa yang berlaku di Perak baru-baru ini tidak diduga oleh Pakatan Rakyat. Anwar Ibrahim, Ketua Pembangkang di Parlimen dan ketua Pakatan Rakyat mengura-urakan pertukan parti oleh UMNO-BN kepada Pakatan Rakyat untuk membolehkan beliau menguasai Parlimen dan, dengan demikian, Kerajaan Pusat. Tiba-tiba, kebalikannya telah berlaku di Dewan Undangan Negeri Perak apabila tiga anggotanya berpaling tadah dan seorang dari UMNO yang menukar kepada PKR kemudian berbalik kepada UMNO!

Oleh kerana Sultan Perak, berdasarkan kuasa yang diberi kepadanya oleh Perlembangaan Negeri Perak, telah melantik seorang Menteri Besar baru dengan barisan Exconya dari BN, maka wujud dua kerajaan Negeri. Pakatan Rakyat tidak mengiktiraf kerajaan negeri yang baru dan mengaggap dirinya masih sah, kecuali ditumbangkan melalui suatu pilihanraya baru, atau undi tidak percaya.

Tindakan Raja Perak mungkin sah dari segi undang-undang, tetapi dari segi sentimen rakyat Perak pada waktu ini, tindakan ini tidak popular. Malah ia akan menarik simpati yang lebih kepada Pakatan Rakyat. Mungkin juga keputusan mahkamah mengenai saman Pakatan Rakyat terhadap kerajaan BN yang baru akan memihak kepada Pakatan Rakyat. Jika ini berlaku, UMNO dan BN akan mengalami suatu kekalahan yang besar.

Apakah makna kemelut ini? Dan apakah implikasi dan iktibarnya?

Para pengundi Malaysia nyatalah mahukan perubahan apabila mereka mengundi dalam Pilihanraya Umum ke-12 itu. Satu aliran fikiran mahu melihat munculnya suatu sistem dwiparti di Malaysia yang boleh menawarkan perubahan kerajaan di Pusat dan juga di Negeri-negeri, seperti yang berlaku di dalam sistem-sistem demokrasi di Barat. Satu lagi aliran fikiran ialah yang menekankan satu “Harapan Baru” bagi Malaysia.

Kedua-dua aliran fikiran ini tidak sama. Pada umumnya, sistem dwiparti seperti di Barat, tidak menawarkan banyak perbezaan dari segi dasar, khansya dasar luar. Aliran “Harapan Baru” boleh ditafsirkan sebagai berbeza; bukan setakat mahu menawarkan suatu alternatif lain yang tidak banyak berbeza. Ia boleh ditafsirkan sebagai sebuah kerajaan yang benar-benar akan memberikan hak-hask asasi rakyat, termasuk jaminan makanan dan perlindungan. Saya fikir inilah aliran yang dikehendaki oleh rakyat. Bolehkah Pakatan Rakyat memenuhi aspirasi ini?

Inilah soalan yang perlu diberi perhatian utama oleh kedua-dua tenaga politik-sosial yang sedang bertembung hebat di negara kita sekarang. Sudah lebih setengah abad, sejak tamat Perang Dunia Kedua, manusia mencari suatu sistem politik-ekonomi yang adil. Sekarang kita sudah tahu akan kegagalan sistem komunis-marxis dan sistem kapitalis-liberal. Kita juga tahu akan kegagalan sistem teokrasi kedua-dua di Eropah dan di Asia. Kita kena tanya diri kita: Apakah bentuk dan rupa sistem yang kita cari? Bagaimanakah boleh kita wujudkan sistem itu di negara kita?

Pertama sekali, pengalaman manusia selama setengah abad ini mengajar kita bahawa sistem yang kita mahu mestilah bersifat sekular. (Tuhan itu Maha Kaya dan tidak memerlukan apa-apa, termasuk taat-setia atau amal-ibadat manusia kepada-Nya.) Ini tidak bermakna sistem ini anti-agama. Ia tidak juga bermakna ia amoral atau tidak menghiraukan perhitungan moral. Ia mengutamakan aspirasi manusia, kemanusiaan, apa yang diperlukan oleh manusia dan yang boleh membawa kebahagian kepada kehidupan manusia, seperti yang termaktub dalam Perisytiharan Hak Asasi Manusia yang dibuat oleh PBB. Terhadap agama, sistem ini netral. Ia mengiktiraf kebebasan bergama dan hak semua orang untuk memilih dan menganut agama masing-masing. Terhadap moral, sistem ini mendukung slogan “memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan”, seperti yang diungkapkan dalam Quran.

Kedua, sistem ini bersifat demokratik. Pemerintahan mestilah bertunjangkan persetujuan dan kehendak rakyat, dalam kata-kata Abraham Lincoln yang masyhur itu: “sebuah kerajaan rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Juga pemerintahan ini mestilah berdasarkan undang-undang, dan bukan berdasarkan kehendak seorang autokrat atau sekumpulan elit agama atau politik.

Ketiga, sistem ini mestilah boleh memberi kebahagian kepada rakyat dengan hak-hak asasi dalam bidang-bidang spiritual, moral, intelektual, material dan fizikal terjamin, seperti yang dirumuskan dalam Perisytiharan Hak Asasi Manusia PPB itu.

Di samping itu, sistem ini hendaklah bersifat nasional, yakni dicorak oleh budaya bangsa Malaysia, yang berasal dari dan bertunjangkan, budaya bangsa Melayu dari sistem Kesultanan Melayu Melaka, sebelum intervensi sistem penjajahan Eropah (Protugis, Belanda dan Inggeris). Dari warisan inilah kita memperoleh sistem Raja Berperlembagaan, Islam sebagai agama rasmi dan bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi dan Bahasa Kebangsaan. Apa yang dipanggil “Ketuanan Melayu”, yang telah disalah-ertikan sekarang, berasal dari warisan sistem ini.

Namun demikian, kita mesti iktiraf bangsa Malaysia sebagai suatu anggota dari keluarga besar bangsa manusia, anak-cucu Adam. Oleh itu, bangsa Malaysia tidak ada keistimewaan, kecuali sifatnya sebagai suatu bagsa yang takwa, yakni yang “merintahkan kebaikan dan melarang kejahatan” dalam kehidupan nasional dan internasionalnya.

Tiada siapa boleh menafikan jasa besar UMNO kepada suku-bangsa Melayu dan negara Malaysia. UMNO telah memainkan peranan utama dalam perjuangan menentang komplotan “Malayan Union” penjajah Inggeris selepas Perang Dunia Kedua dan mencapai kemerdekaan. Dalam perjuangan ini, UMNO disertai oleh dua parti lain yang mewakili masyarakat Cina dan India, iaitu MCA dan MIC, dalam gabungan Perikatan. Gabungan ini kemudian diperluas untuk meliputi beberapa parti lain, termasuk di Sabah dan Sarawak, yang menyertai Malaysia pada 16 September, 1963, oleh Tun Abdul Razak, presiden UMNO yang ketiga (dikira dari Dato’ Onn yang kemudian meletak jawatan) dan Perdana Menteri Malaysia yang kedua. Dari tarikh 31 Ogos, 1957 hingga 1976 apabila Tun Razak secara tiba-tiba meninggal kerana penyakit leukemia, Malaysia membuat banyak kemajuan dalam bidang-bidang ekonomi, pendidikan, pembangunan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu, pembangunan luar bandar dan dasar luar.

Kemudian Dr. Mahathir, presiden UMNO yang kelima dan Perdana Menteri Malaysia yang keempat, meletakkan Malaysia di persada dunia dengan dasar peridustriannya dan dasar-dasar lain yang merupakan lompatan bagi kemajuan Malaysia. Namun demikian, dalam zaman beliau (22 tahun) UMNO berpecah dua kali dan apa yang dipanggil “politik wang” (amalan membeli dan menjual undi) bermula dalam UMNO. Amalan demokrasi kian terbatas hingga Perhimpunan Agung UMNO tidak lagi menyuarakan hasrat anggota-anggota UMNO, khasnya, dan orang Melayu, umumnya. Kronisme, rasuah dan pembaziaran menjadi berleluasa. Dari sinilah masalah UMNO bermula, dan ia membawa kepada tersisihnya UMNO dari sebagian anggota-anggotanya sendiri dan juga dari orang Melayu.

Walaupun UMNO, dengan menubuhkan sayap-sayap puteri dan pemuda, berjaya memperoleh sokongan generasi muda dalam pilihanraya-pilihanaya, hal ini tidak kekal. Ini berlaku kerana keanggotan UMNO yang meningkat 3.2 juta orang hanya hebat pada zahir saja. Pada batinnya ia tidak hebat, kerana UMNO tidak menyelenggarakan kursus-kursus politik yang saintifik bagi anggota-anggota. Dengan lain perkataan, anggota-anggota UMNO tidak tahu perjuangan mereka. UMNO tidak menggariskan falsafah politiknya yang jelas dan anggota-anggotanya tidak tahu falsafah politik ini. Akibatnya, mereka tidak boleh menjadi pendidik dan pengawas kepada bangsa dan parti. Penyelewengan dari peringkat atas hingga ke bawah tidak dapat dicam dan dihalang oleh anggota-anggota parti, kerana mereka tidak mempunyai ilmu politik. Umumnya, mereka masuk parti kerana mahukan habuan material, kerana ini telah menjadi budaya dalam UMNO pada waktu ini. “Kalau aku tidak ambil, orang lain akan ambil!” Korapsi material memperanakkan korupsi mental!

Pada waktu beliau hendak meletak jawatan, Dr. Mahathir menangis serta mengaku beliau gagal mengubah minda Melayu. Saya tidak fikir minda Melayu tidak boleh diubah. Ia boleh diubah dengan ilmu yang saintifik. Budaya saintifik mesti ditanam dalam UMNO dan dalam masyarakat Melayu.

Ramai orang meramalkan pimpinan UMNO yang ada sekarang tidak boleh memulih dan menyelamatkan UMNO. Kemerosotannya sudah terlalu jauh, kata mereka. Saya fikir tidak ada yang mustahil bagi manusia. Yang perlu ialah kehendak dan tindakan. Tindakan tidak akan dapat dibuat jika tidak ada kehendak. Kehendak tidak berguna jika tidak diikuti dengan tindakan. Pimpinan UMNO sekarang mesti ada kehendak untuk membuat reformasi dalam UMNO. Kehendak ini kemudian hendaklah diterjemahkan ke dalam bentuk tindakan.

Perubahan-perubahan yang perlu dilakukan meliputi semua bidang: organisasi, politik dan pimpinan. Dalam bidang organisasi, UMNO tidak memerlukan bilangan anggota yang terlalu ramai. Apa yang diperlukan ialah anggota-anggota yang cerdik, aktif dan dinamik. Mereka harus diberi kursus politik yang saintifik. Kursus harus dibahagikan kepada tiga peringkat: kepada anggota-anggota baru, kepada kader-kader muda (untuk memegang jawatan di peringkat cawangan), dan kepada kader-kader kanan (untuk memegang jawatan-jawatan di peringkat bahagian dan pusat).

Dalam bidang politik, UMNO perlu melaksanakan dasar-dasar yang boleh memberikan kebahagian kepada rakyat, seperti yang telah kita huraikan di atas. Pembaziran, rasuah dan segala bentuk penyelewengan mesti dihapuskan, atau setidak-tidaknya, diminimumkan. Wang yang diselamatkan dari pembaziran, rasuah dan segala bentuk penyelewengan, sebagiannya hendaklah diperuntukkan bagi menaikkan gaji kakitangan awam di peringkat-peringkat bawah, supaya tidak ada rakyat yang pendapatnya tidak cukup untuk menyara keluarganya. Tindakan ini akan menghapuskan rasuah, dan, di samping itu, membantu menghapuskan jenayah yang sekarang kian meningkat.

Pembaziran boleh dihapuskan dengan mengurangkan bilang pekerja dalam perkhidmatan awam. Mereka ini boleh diberikan latihan-latihan yang sesuai untuk memasukkan mereka ke dalam bidang pertanian yang masih luas skopnya, dan, dengan itu, meningkatkan penghasilan negara kita.

Kesesakan jalanraya di bandar-bandar besar, seperti Kuala Lumpur dan Pulau Pinang, perlu diatasi dengan mengurangkan kereta persendirian dalam bandar-bandar besar itu serta membaiki sistem kenderaan awam di sana.

Dalam bidang pimpinan, anggota-anggota UMNO mesti memastikan orang yang paling layak saja yang diberi jawatan. Mereka mesti mensyaratkan prestasi yang tertinggi bagi pemegang-pemegang jawatan.

Rakyat yang patriotik mestilah membantu UMNO membuat perubahan-perubahan ini. Jangan kerana perasaan benci, maka kita tidak berlaku adil kepada UMNO dan melupakan jasa-jasanya. Namun demikian, UMNO harus ingat ia perlu melakukan perubahan-perubahan ini, jika ia mahu terus memainkan peranan asalnya sebagai pejuang dan pembela bangsa.

Demikian juga bagi Pakatan Rakyat. Harus diingat bahawa Anwar Ibrahim dan sebagian besar dari anggota PKR ialah bekas anggota-anggota UMNO yang keluar dari UMNO bersama gerakan reformasi Anwar Ibrahim setelah beliau disingkirkan dari UMNO. Seperti yang telah saya katakan, setakat mahu mewujudkan sistem dwiparti seperti di Barat, tidaklah mencukupi. Rakyat mahu suatu perbuahan besar, suatu “Harapan baru”, slogan yang diciptakan oleh Anwar. Bolehkah PAS dengan kecenderongan teokrasinya, dan DAP dengan dasar “Malaysian Malaysia”-nya yang tidak berpijak ke bumi nyata, dan PKR yang terselit di tengah-tengah, melaksanakan “Harapan Baru” ini. Mereka harus menyelesaikan percanggahan ideologi ini dengan segera serta melaksanakan dasar-dasar yang selaras dengan slogan “Harapan Baru” mereka.

Kita tidak perlu mengikut sejarah Barat dengan mengadakan sistem dwiparti. Kita perlu menggabungkan tenaga bangsa untuk memajukan bangsa kita, mengikut acuan kita sendiri.

Rakyat mahukan perubahan, bukan mahukan Pakatan Rakyat. Mereka akan melihat bagaimana kerajaan-kerajaan Pakatan Rakyat mentadbir negeri-negeri di bawah kuasa mereka. Jika mereka tidak boleh menunaikan janji mereka, mereka akan ditolak, dan rakyat akan membuat pilihan lain. Inilah undang-undang pergantian, yang merupakan natural law atau sunnatullah.

Kassim Ahmad seorang penulis bebas Malaysia. Beliau boleh dihubungi di kassim03@streamyx.com

Posisi Ideologis dan Representasi: Perempuan Berkalung Sorban, Membela atau Merusak Nama Islam?

oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

“Maaf jika ada yang tidak berkenan. Peringatan keras bagi yang punya pemikiran antikebebasan, silakan jauhi film ini daripada nanti anda sakit hati.”

(Hanung Bramantyo)

Film terbaru Hanung Bramantyo, Perempuan Berkalung Sorban (PBS) memicu kontroversi. Dua kelompok saling menjadi oposisi. Kelompok anti-PBS, sebut saja begitu, menyatakan bahwa film ini sesat menyesatkan, menjelek-jelekkan pesantren dan Islam secara umum, bagian dari propaganda Islam Liberal, menyatakan agar film ini jangan ditonton, dan bahkan ada yang berniat untuk memboikotnya secara jama’i. Sebagian ulama dan tokoh Islam menyerukan hal itu tanpa menontonnya terlebih dulu, sebuah pengulangan kesalahan yang pernah dilakukan KH. Abdullah Gymnastiar saat “mengharamkan” Buruan Cium Gue. Tapi ada juga yang sudah menontonnya dan bersuara, di antaranya emosional.



Sineas senior yang akrab dengan representasi keislaman dalam sinema, Chaerul Umam (Al-Kautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nada dan Dakwah) dan Deddy Mizwar (Kiamat Sudah Dekat, serial TV Para Pencari Tuhan) ada di kubu ini, walau pun bukan dalam bandul terekstrimnya. Dalam beberapa media, Deddy Mizwar menyatakan, bahwa cerita yang disajikan dalam film itu sangat menyudutkan Islam: fikih-fikih Islam yang dihadirkan dalam PBS cenderung tidak jelas serta memiliki penafsiran sepihak saja. Senafas dengan itu, Chaerul menyatakan adanya ketidakseimbangan (unbalance) dalam film tersebut. Bagaimana kisah buruk kiyai dan pesantren yang di-blow up secara sepihak, sedangkan pesantren dan kiyai yang bagus tidak disentuh (Tribun Batam, 14/2).

Kelompok pro-PBS tak habis-habisnya heran. “Apa yang salah dengan film ini?”; “mengapa tokoh agama semacam MUI harus ikut campur dan bahkan melarang-larang film ini?”; “mengapa kita tak boleh mengkritisi ajaran agama?”, kira-kira begitu komentar mereka. Di antara mereka menyatakan bahwa film ini bagus karena mengkritik praktik-praktik yang menyalahi ajaran Islam yang sebenarnya. “Apakah salah kalau menggambarkan Islam dengan buruk dalam sebuah film?”, demikian salah seorang facebooker bertanya pada saya. Justru, bagi mereka, film ini berani membongkar kasus-kasus penindasan perempuan, dan kebejatan moral oknum orang pesantren khususnya kyai dan anak kyai, yang selama ini kenyataannya memang terjadi.

Tulisan ini berusaha membaca PBS tanpa harus mengikuti polarisasi pemikiran dua kubu yang semakin berjarak sejak jaman FPI versus Ahmadiyah atau pro-kontra RUU Pornografi. Dari awal saya sudah menyatakan, misalnya dalam artikel “Ayat-Ayat Misoginis” di majalah Azzikra edisi Februari 2009 bahwa film ini gagal dalam menyampaikan pesan awalnya dan malah menjadi efek bumerang. Tapi saya merasa harus menulis lagi hal ini dengan sedikit lebih dalam. Kali ini dengan dua pendekatan: status ideologis dan representasi.

Status ideologis adalah posisi sutradara dalam memandang film ini. Saya percaya Hanung sahabat saya itu mempunyai niat yang mulia saat membuat film ini dan itu jauh dari semangat merusak nama Islam. Sedangkan representasi membahas tentang apa-apa yang terlihat dan terdengar di layar perak. Status ideologis berkutat pada masalah “Apa maunya sang sutradara”, sedangkan representasi pada “Apa maunya film ini?”. Yang pertama mengkaji permasalahan epistomologis (yang mencakup filsafat ilmu dan logika), “bagaimana pengetahuan itu bisa dicapai”, sedangkan yang kedua adalah persoalan ontologis seputar film dan (keterwakilan) realitas pada media film.

Status ideologis

Saya berkhayal, kalau bukan Hanung Bramantyo –yang sudah menelurkan film berlatar masyarakat Muslim semacam Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan Doa yang Mengancam– apakah film ini menuai polemik sebesar ini?

Saya percaya Hanung punya idealisme tertentu –baik isu Islam atau pun gender– saat mengerjakan film ini. Tidak ada niat untuk menjelek-jelekkan citra Islam, saya berprasangka baik padanya. Saya menjadi saksi mata saat syukuran AAC, Hanung dengan suara bergetar menahan haru menyatakan bahwa sudah lama ia ingin memenuhi wasiat ibunya yang mengharapkannya membuat film tentang agama (Ayat-Ayat Cinta, Perwujudan Mimpi Hanung Bramantyo).

Kepada pers, ia menyatakan, “saya ini seorang Muslim. Di film itu, saya sama sekali tak mengkritik Islam, Al-Quran, ataupun hadis.” Baginya, PBS adalah otokritik terhadap umat Islam, terutama keluarga yang kerap menggunakan Al-Quran dan hadis secara salah untuk memaksakan kehendaknya kepada anak-anak mereka. Di PBS, menurutnya, menggarisbawahi bahwa Islam, kedudukan antara perempuan dan laki-laki adalah setara. “Pesan itu ditampilkan oleh sosok Khudori,” tutur Hanung yang menilai bahwa kekhawatiran sebagian kalangan bahwa film PBS akan merusak pikiran umat Islam sangat tak beralasan. “Umat Islam kan sudah pada cerdas,” tambahnya.

Namun, justru itulah permasalahannya. Jika ia adalah sosok yang antipati terhadap Islam atau pesantren, tentu film ini bisa “dimaklumi” mengandung banyak sekali pencitraan yang buruk terhadap pesantren tanpa ada upaya untuk membelanya atau menawarkan Islam alternatif yang dianggapnya ideal. Tapi ini Hanung yang membuat, seorang sutradara so-called “film Islam”, yang juga berkeinginan “membela” Islam. Walhasil, film ini berefek bumerang: awalnya diniatkan untuk “memperjuangkan hak-hak Muslimah” malah terkesan menjadi film yang menggambarkan Islam kejam dan benci terhadap perempuan. Dan memang, film ini kental dengan ayat dan fatwa misoginis.

Hanung menyatakan bahwa ia mengangkat pesantren yang sudah hadir ditafsirkan Abidah El-Khaliqy pada novelnya. Kepada pers, ia mengungkapkan bahwa PBS ibaratnya membayar utang pada masyarakat khususnya kaum perempuan yang kecewa pada film AAC. “Film ini adalah hutang saya pada kaum perempuan yang sebelumnya kecewa dengan film AAC yang dianggap sangat berpihak pada poligami,” ujarnya dalam konferensi pers usai menonton PBS bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta dan para aktivis perempuan (10/2/2009). Kantor berita Antara menyatakan bahwa:

Hanung mengatakan banyak protes yang ditujukan padanya dibalik kesuksesan film AAC di mana ia bertindak sebagai sutradara. Sebagian besar yang memrotes adaah perempuan yang menganggap Hanung pro pada poligami dan AAC mencerminkan budaya patriarki yang merugikan kaum perempuan.

“Oleh karena itu saya membuat film ini untuk meletakkan kembali bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sejajar, manusia hanya dibedakan dari tingkat keimanannya dan bukan dari jenis kelaminnya,” ujar ayah satu anak ini.

Jadi, niatnya adalah menyeimbangkan, atau tepatnya, “meralat” AAC. Juga mengikuti penafsiran Abidah sang penulis novel.

Jadi, di mana sebenarnya letak status ideologis Hanung? Apa pandangan dan posisinya terhadap, di antaranya, budaya patriarkal, poligami, dan pesantren? Yang di AAC atau PBS? AAC dan PBS dalam konteks ini seperti adalah dua kubu yang berlawanan. Yang satu berwajah malaikat, yang satu berkelakuan Iblis. Dan seakan-akan ada relasi nasikh-mansukh, penafsiran AAC dihapus oleh PBS. Mungkin, sekilas keduanya menjadi seimbang, ada Islam sejuk, ada Islam “ganas”, tapi nyatanya persoalan tidak sesederhana itu. Persoalan keterwakilan dua realitas ini akan dibahas di bagian lain, tentu saja. Tapi, bagi saya, ada problematika ideologis: pada PBS, Hanung ada di posisi yang mana? Yang memandang Islam sebagai wajah damai atau wajah penindas? Kalau ternyata yang pertama, mengapa tidak ada satu pun tanda-tanda Islam yang membebaskan di film itu? Mengapa menawarkan solusi non-Islam seperti “Bumi Manusia” atau karya sastra dan pemikiran lain, tanpa ada satu pun penafsiran ayat atau Islam yang mengkritisi karakter-karakter antagonis, katakan saja “The Tao of Islam”-nya Sachiko Murata atau feminis berlatar Islami macam Fatimah Mernissi dan Asghar Ali Engineer? Jika niatnya menyatakan Islam yang ramah perempuan, mengapa tidak ada penafsiran gender dan perlawanan signifikan dari Islam yang “sebenarnya”? Mengutip Emha Ainun Nadjib, untuk nahi munkar (mencegah kemungkaran) tentu harus tahu munkar-nya baru kemudian di-nahi. Nah, dalam konteks PBS, mana bagian nahi-nya?

Apakah ini bisa ditafsirkan bahwa Hanung gagap (bahkan gagal) dalam menuturkan gagasannya? Atau ini adalah sebuah ayat bagaimana Hanung memahami agamanya? Untuk yang terakhir, agaknya saya terlalu lancang dan keterlaluan jika menghakiminya. Tapi saya membaca majalah Madina edisi Anniversary (Januari-Februari 2009) soal Palestina, dan di sana Hanung berkomentar bahwa sejak kiblat umat Islam dipindahkan dari Masjidil Aqsa di Palestina ke Masjidil Haram di Mekkah, maka sejak itu ia bukan menjadi Tanah Suci lagi. Bagi saya, ini pernyataan yang keterlaluan, mengingat banyak sekali data sejarah atau ayat suci dan hadis yang menyatakan sebaliknya. Bahkan, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Yerusalam adalah kota suci bagi tiga agama samawi, termasuk kota suci ketiga umat Muslim sedunia setelah Mekkah dan Madinah.

Representasi

Madzhab realisme, menurut Roy Armes, mengandung tiga tujuan: memaparkan realitas apa adanya, imitasi realitas, dan mempertanyakan realitas. Agaknya, yang terakhir ini adalah pilihan PBS. Tentu saja, dalam film, realitas ini adalah “realitas” karena terkonstruksi, dipilih, dipilah, diracik dengan gaya dan formula tertentu, baru disajikan. Belum lagi status fiksi yang melekat padanya. Realitas apa, yang mana, menurut siapa? Jawabannya adalah “realitas” yang terepresentasi dalam film.

Yang menarik, setelah menonton bersama, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta menyatakan bahwa orang yang mengkritik kurang paham persoalan. “Mereka sebenarnya membela Islam, jika Islam tidak seperti itu sebenarnya. Perempuan sering ditindas. Tapi padahal Islam tidak menindas perempuan,” ujarnya (10/2/2009). Menurut Ibu Menteri, dalam film itu digambarkan ketika ajaran Islam tidak dijalankan dengan baik dan dipahami secara keliru.

“ Ada yang keliru dalam memahami ajaran Islam, nilai-nilai Islam. Kalau saya menganggap ajaran saya mengajarkan kedamaian, kebaikan, keharmonisan ya itulah yang seharusnya. Dan film itu tidak menggambarkan apa yang diajarkan oleh agama Islam,” tandas putri proklamator Bung Hatta ini.

Pernyataan ini menarik, berhubungan dengan teori representasi. “Dan film itu tidak menggambarkan apa yang diajarkan oleh agama Islam”. Lantas apa yang digambarkan film itu? Tepatnya: apa yang direpresentasikan film itu? Pesantren yang menindas perempuan, Islam yang menekan dan mengekang kaum wanita. Adakah di sana Islam yang membela dan membebaskan perempuan? Tidak ada.

Dalam pernyataanya yang disitir pers, dan dinyatakan di atas, Hanung menyatakan bahwa PBS justru menekankan bahwa pada Islam, kedudukan antara perempuan dan laki-laki adalah setara, dan pesan itu ditampilkan oleh karakter Khudori. Pertanyaannya, ayat dan dalil Islam yang mana yang menyatakan kesetaraan gender itu? Tokoh Khudori, yang berpotensi menjadi pahlawan, tidak melakukan pembelaan yang kuat dan proporsional. Ia lemah, lebih lemah dari tokoh Fahri di AAC. Film itu benar-benar menggambarkan pesantren dan kyai yang, dalam istilah Meutia (dan Hanung pula) “keliru dalam memahami ajaran Islam”. Tentu saja, kita mengetahui bahwa itu Islam yang keliru. Tapi, di film itu, adakah yang “meluruskan” kekeliruan dan kesalahan itu? Adalah representasi di film itu yang, katakanlah menyatakan bahwa itu keliru dan meluruskannya? Tidak ada. Kebebasan wanita diperoleh dengan direbut, lewat ilmu pengetahuan, sastra, buku, wawasan, dari luar Islam. Mau tak mau, kita harus menyatakan bahwa itulah representasi Islam dan pesantren di PBS: Islam yang tak hanya zalim kepada perempuan, tetapi juga anti-intelektual.

“Lho tapi itu kan kasus yang salah?” Atau dalam istilah Bu Menteri, “mereka sebenarnya membela Islam, jika Islam tidak seperti itu sebenarnya”. Betul. Tapi, apakah dialog seperti itu ada dalam PBS? Di scene atau dialog yang mana letak pembelaannya?Adakah penggambaran “Islam yang benar”? Ada, memang, tapi lemah dan tak signifikan, serta tak bisa membendung (generalisasi) pencitraan buruk pesantren.

Secara gampangannya begini: seandainya film ini diputar di Berlin atau New York, bagaimana kira-kira pandangan orang-orang bule itu terhadap Islam? Sebuah pesantren yang ramahkah? Islam yang membebaskankah? Islam yang “benar”-kah? Kalau kita putar di lingkungan pesantren, apakah film ini dekat dengan kehidupan mereka, atau dengan kata lain: apakah PBS merepresentasikan mereka? Kalau selon, silakan saja tur keliling pesantren, di Jombang atau Jawa Timur. (Oh ya, di Jombang saya rasa tidak ada pantai, tapi ini soal lain). Bahkan, silahkan ke Ngruki sekalian, jika mau nakal.

Pamungkas

Singkat kata, film ini secara ideologis, epistemologis dan ontologis bermasalah. Hanung (bagaimana pun, dia adalah aset bangsa yang telah menelurkan Catatan Akhir Sekolah dan Get Married!) yang sebenarnya pro-Islam (yang membebaskan dan ramah perempuan) malah ditafsirkan sama sekali berlawanan darinya. Dan nyaris tak ada representasi Islam yang membebaskan dan ramah perempuan dalam film ini. Sederhananya, pesan dari pak sutradara (pendekatan posisi ideologis) tidak tersampaikan sebagaimana mestinya, dan filmnya sendiri (pendekatan representasi) tidak membuka banyak ruang untuk keterwakilan Islam yang, mengutip Meutia, “sebenarnya”.

Dan, pernyataan Hanung dalam blognya justru kontraproduktif dan menegaskan ambiguitas posisi ideologisnya yang terepresentasi dalam PBS: dari “Islam adalah wacana dan wahana pembebasan” menjadi “pilih kebebasan, atau pilih Islam? Karena tidak ada pilihan kebebasan dalam Islam, apalagi kaum perempuan”. Karena justru kaum yang protes itu adalah kaum yang percaya bahwa Islam adalah jalan pembebasan, sama persis seperti niat Hanung semula. Ternyata, dalam kasus ini, hadis “sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya” tidak terejawantah. Wallahua’lam.





Perak PR to sue Perak State Legal Adviser

KUALA LUMPUR, March 6 — Perak Pakatan Rakyat will be filing a suit at the Kuala Lumpur High Court in Jalan Duta today at 3pm to stop Perak State Legal Adviser Datuk Ahmad Kamal Md Shahid from representing Perak Assembly Speaker V. Sivakumar in the Ipoh High Court.

It is believed that prominent lawyer Tommy Thomas will be filing the suit on behalf of Perak PR.



Nizar seeks audience with Perak Sultan to end unhealthy deadlock

By Wong Choon Mei(SK)

In a bid to end the unhealthy deadlock in Perak state, Pakatan Rakyat Menteri Besar Nizar Jamaluddin has sought an audience with the Sultan to brief him on three motions tabled and passed by the state legislative assembly at an emergency sitting on Tuesday.

“We appeal from the bottom of our hearts, for the sake of the people of Perak, that his Royal Highness grants us an audience as soon as possible,” Pakatan leader Nga Kor Ming told reporters.

“It is the wish of the people that the state assembly be dissolved so that power is returned to them. With greatest respect to the Ruler, we hope we are granted an audience.”

Chaos and political deadlock

Peninsular Malaysia’ ssecond largest state has been plunged into chaos after an unpopular Feb 5 decision by the Perak Ruler to transfer power to an Umno-BN line-up backed by Deputy Prime Minister Najib Abdul Razak.

Nizar, who was then the incumbent Menteri Besar, had advised that the state assembly be dissolved and the mandate returned to the people of Perak to choose the leadership they wanted.

The Pakatan leader had argued that the majority claimed by Umno-BN was questionable and already being challenged in the courts.

Pakatan and Umno-BN have 28 seats each in the 59-seat assembly, but with the help of three defections, Najib claimed a slim majority. Sultan Azlan Shah had then chosen to go with him, rather than Nizar.

However, that fateful decision sparked an uproar from Perakians. 74 percent of the Perak people surveyed by the well-respected Merdeka Centre said they wanted fresh state-wide polls to break the political impasse. They were also unhappy that the Umno-BN line-up, which had only one non-Malay, did not represent the state’s racial mix.

Yet, Umno-BN has insisted on clinging to power, perhaps knowing that its chances of victory would be slim given the hugely unpopular manner in which it had engineered the power grab.

Non-stop appeals to the Sultan to grant fresh polls

A barrage of legal suits and counter-suits have since followed, leading to Tuesday’s emergency sitting called by Perak Speaker V Sivakumar. Again, Umno-BN boycotted the meet and instigated the police and state secretary to block Pakatan lawmakers from entering the legislative assembly hall.

Undeterred, Sivakumar convened the historic emergency session under a leafy and decades-old raintree nearby to the secretariat building. With all 28 Pakatan lawmakers present, there was sufficient quorum to legitimise the assembly and the motions it endorsed, despite the unusual setting forced upon them by the Umno-BN in concert with the police and the state secretary.

It now remains to be seen if Sultan Azlan will acknowledge the wishes of his subjects and grant Nizar his audience, or stand by Najib.

There has been a non-stop multitude of calls from not just Perakians, but Malaysians nationwide, and hundreds of civil society groups appealing to Sultan Azlan to grant a state-wide election.

“The present crisis in Perak could have been averted if His Royal Highness Sultan Azlan Shah had dissolved the Legislative Assembly on February 5. The present scenario in Perak is seen as a State without a legitimate government,” said Param Cumaraswamy, former UN Special Rapporteur on the Independence of Judges and Lawyers.

“The casualty in such an environment primarily is the rakyat. If the situation is not carefully addressed and arrested quickly the rule of law in Perak will be in jeopardy and anarchy will be the order of the day.”

Tengku Razaleigh Hamzah, the Kelantan prince and well-respected veteran Umno politician, is the latest to join the chorus of voices.

“It may not be good for Barisan Nasional but we have no choice. We can’t go on with this impasse. I think that constitutional rule in Perak has collapsed and the only way to rectify the situation is to go back to the people. That would be the appropriate thing for the Ruler to do.”

Kes Nizar vs Zambry ke Mahkamah Persekutuan

Mahkamah Tinggi (bahagian rayuan dan kuasa khas) memutuskan isu-isu perlembagaan bagi menentukan menteri besar Perak yang sah akan ditetapkan oleh Mahkamah Persekutuan.

Hakim Lau Bee Lan lebih senang perkara tersebut dirujuk terus kepada mahkamah tertinggi itu bagi mempercepatkan keputusan berhubung pergelutan politik di negeri itu antara Pakatan Rakyat dan BN.

Hakim juga meminta peguam kedua-dua pihak merumuskan soalan-soalan yang akan dibawa ke mahkamah tersebut.

Saman mencabar pelantikan Datuk Zambry Abdul Kadir sebagai menteri besar baru Perak difailkan oleh Datuk Seri Mohd Nizar Jamaluddin

Selasa lalu, peguam utama Nizar, Sulaman Abdullah membantah perkara itu dirujukkan ke Mahkamah Persekutuan.

Sebaliknya, beliau memohon Hakim Lau mendengar saman tersebut.

Bagaimanapun, peguam kanan persekutuan, Kamaluddin Md Said yang mewakili pejabat Peguam Negara berhujah bahawa perkara itu membabitkan penafsiran Artikel 16 (6) Perlembagaan Negeri Perak dan oleh itu harus didengar oleh Mahkamah Persekutuan.

Dalam samannya itu, Nizar, antara lain, memohon pengisytiharan bahawa beliau adalah menteri besar Perak yang sah.

Beliau juga memohon penafsiran Artikel 16(6) Perlembagaan Perak sama ada jawatan menteri besar boleh dikosongkan apabila:

Menteri besar telah menasihatkan Sultan mengenai pembubaran Dewan Undangan Negeri (DUN);

Tiada pembubaran Dewan Undangan Negeri;

Tiada usul tidak percaya terhadap menteri besar di Dewan Undangan Negeri; dan

Menteri besar tidak meletak jawatan.


[Laporan penuh menyusul]

Politik wang: Pembantu kanan Menteri disiasat SPRM

PETALING JAYA: Seorang pembantu kanan menteri ditahan oleh Suruhanjaya Pencegahan Rasuah (SPRM) lewat malam Rabu lalu berhubung dakwaan menerima suapan bernilai RM70,000.

Bagaimanapun, dia dibebaskan semalam.

Difahamkan lelaki tersebut ditahan lewat malam Rabu lalu dan dibebaskan beberapa jam kemudian selepas SPRM merekodkan kenyataan daripadanya.

Sementara itu, ibu pejabat Umno yang cuba dihubungi tidak dapat mengesahkan berita tersebut.

Sumber pejabat menteri berkenaan juga tidak dapat dihubungi untuk pengesahan.

Difahamkan, menteri berkenaan akan bertanding jawatan Majlis Tertinggi dalam pemlihan parti itu hujung bulan ini.

Bagaimanapun, tidak dapat dipastikan sama ada penahanan pegawai tersebut ada kaitan dengan kempen pemilihan Umno.

Pemilihan Umno akan berlangsung pada 24 hingga 28 Mac ini.

Isu politik wang hangat diperkatakan apabila SPRM mendedahkan sebanyak 45 daripada 90 kes aduan rasuah politik membabitkan pemimpin Umno yang diterima SPRM ditutup kerana ketiadaan bukti kukuh.

Setakat ini, beberapa ahli Umno sudah pun didakwa dengan kes terbaru membabitkan tiga ahli Umno yang dihadapkan di mahkamah berasingan, bulan lalu.

Ini termasuk Naib Ketua Umno Bahagian Beruas, Azman Noh, yang didakwa di Mahkamah Sesyen Ipoh atas tuduhan memberi rasuah RM300 kepada seorang perwakilan supaya mengundinya dan dua pemimpin lain bagi tiga jawatan tertinggi bahagian itu, Oktober lalu.

Hollywood Celebs’ Gossips: Najib’s Altantuya Shaaribuu Relationship

Hollywood Celebs’ Gossips | March 5, 2009

Najib Tun Razak had a relationship with murdered Mongolian woman Altantuya Shaaribuu [wikipedia], according to a French newspaper.

Najib who will be Malaysia’s next Prime Minister at the end of March, has previously vehemently denied he knew Altantuya, the mistress of his aide Abdul Razak Baginda. But based on French La Liberation’ s report The Altantuya Shaaribuu’s Case : How And Why She Was Killed? by journalist Arnaud Dubus, Najib Tun Razak not only knew Altantuya Shaaribuu, but also once met her up in Paris, had photo(s) together there and even her wife Rosmah Mansor also had the knowlege of the murdured.

Dubus, based in Thailand, spent three months investigating the Altantuya Shaaribuu murdering case. His detailized grisly counts of the final moments of Altantuya and Najib Tun Razak’s interference in the incident must cast the Malaysian people to believe Najib is a relentless, arrogant man. In fact, for those who are concerned with Malaysian politics, they all now believed the recent political developments/crisis in this Southeast Asia’s country were orchastrated by Najib to fulfill his ambitions to become a Prime Minister.

Looking at Anwar Ibrahim sodomy case and Perak Constitutional Crsis, its jurisdiction, police, some institutions (like Election Commission, Anti-corruption Commission) that should have been neutral all are leaning toward the ruling coalition to be headed by Najib. Some are worrying Malaysia would be next Zimbabewe.

Until then, Najib would be another Robert Mugabe who notoriously suppresses the opposition! Realising Anwar Ibrahim to be the biggest threat of his premiership, we bet Najib would eventually throw his arch-rival to the prison through a biased jurisdiction system even though for the majority of Malaysian who couldn’t believe how a 62-year-old to sodomise a young man in his 20’s.