Memaparkan catatan dengan label Luthfi Assyaukanie. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Luthfi Assyaukanie. Papar semua catatan

02 Januari 2009

Ada di Manakah Anda Secara Ideologis?

Oleh: Luthfi Assyaukanie

“Hari gini masih ngomongin ideologi,” mungkin Anda akan bilang begitu. Daniel Bell juga sudah sejak tahun 1960 menegaskan berakhirnya ideologi. Sebagai pertarungan wacana, ideologi mungkin sudah basi. Namun, sebagai instrumen untuk mengidentifikasi perilaku dan sikap politik seseorang, ideologi masih berguna dan masih sangat hidup.

Saya baru membaca buku tipis yang memetakan ideologi-ideologi dunia. Yang menarik, dari kelima ideologi yang disebutkan dalam buku itu, Liberalisme adalah ideologi yang paling prospektif, karena ia berada di tengah-tengah spektrum ekonomi-politik.

Dengan peta itu, Anda juga bisa mengukur diri Anda sendiri, apakah Anda seorang liberal atau bukan.

Kelima ideologi utama dunia itu adalah: (i) Komunisme, (ii) Sosialisme, (iii) Liberalisme, (iv) Konservatisme, dan (v) Fasisme. Jika kita identifikasi mereka dengan menggunakan spektrum ekonomi-politik, maka kita akan mendapatkan persamaan sebagai berikut:
Komunisme = Kiri Ekstrim
Sosialisme = Kiri
Liberalisme = Tengah
Konservatisme = Kanan
Fasisme = Kanan Ekstrim

Saya akan menjelaskan secara singkat masing-masing ideologi itu dan mengapa spektrum ekonomi-politik masing-masing ideologi itu menjadi demikian.
Komunisme adalah paham yang menekankan pentingnya kehidupan sosial ketimbang kehidupan individu. Dalam hal ini, Komunisme dan Sosialisme berada dalam satu perahu. Komunisme dan Sosialisme juga sepandangan dalam hal redistribusi ekonomi. Mereka menganggap redistribusi kekayaan sebagai sesuatu yang penting. Komunisme dan Sosialisme sama-sama meyakini bahwa kepentingan pribadi harus disubordinasikan untuk kebaikan bersama, kebaikan masyarakat sekaligus.

Yang membedakan Komunisme dari Sosialisme adalah bahwa yang pertama menggunakan cara-cara radikal, seperti revolusi, dalam melakukan perubahan, sementara yang kedua menggunakan cara-cara yang damai, seperti pemilihan umum. Itulah sebabnya, Komunisme berada dalam barisan Kiri Ekstrim sementara Sosialisme pada barisan Kiri saja.

Konservatisme adalah paham yang mengajarkan bahwa kehidupan organis, yakni kehidupan yang teratur rapi dan terstruktur, adalah kehidupan yang ideal. Fasisme juga memiliki kesamaan pandangan dalam hal ini. Keteraturan organis adalah sesuatu yang harus ditegakkan. Baik kaum Konservatif maupun kaum Fasis sama-sama menganggap bahwa manusia pada dasarnya tidaklah sama. Manusia berbeda secara agama maupun rasial.

Kaum Konservatif religius menganggap bahwa dirinya lebih luhur dari manusia lain yang berbeda agama darinya. Kaum konservatif religius merasa bahwa hukum yang diinspirasikan dari Tuhan lebih agung dari hukum manusia. Hukum-hukum agama tertentu umumnya bersikap diskriminatif dan memprioritaskan pemeluknya saja ketimbang memberikan pelayanan secara adil dan setara.

Kaum Fasis juga memiliki pandangan yang sama dengan kaum Konservatif dalam hal superioritas kelompok. Hanya saja, jika kaum Konservatif melakukan itu untuk menjamin jalannya kebebasan dan keteraturan, kaum Fasis hanya menekankan keteraturan saja dan mengabaikan kebebasan. Kaum Konservatif bersikap seperti itu untuk merawat nilai-nilai tradisional, sementara kaum Fasis melakukannya demi kemenangan ras.

Yang membedakan kaum Konservatif dari kaum Fasis adalah jika yang pertama masih percaya pada pemilihan umum yang demokratis sebagai cara yang damai dan beradab, kaum Fasis menggunakan kudeta atau mencurangi pemilihan umum demi melakukan perubahan politik. Inilah yang menjelaskan mengapa kaum Konservatif berada di Kanan dan kaum Fasis berada di Kanan Ekstrim.

Liberalisme adalah paham yang menekankan pentingnya kebebasan dan kesetaraan politik. Orang-orang liberal lebih mementingkan individu ketimbang sosial dan berjuang untuk menerapkan persamaan kesempatan. Jika kaum Komunis dan Sosialis mementingkan redistribusi ekonomi, sementara kaum Konservatif mementingkan nilai-nilai liberal dan kaum Fasis mementingkan kemenangan ras, kaum Liberal mementingkan perlindungan terhadap kebebasan individu. Kebebasan individu adalah segala-galanya.

Dalam hal perubahan politik, baik Sosialisme (Kiri), Konservatisme (Kanan), maupun Libralisme (Tengah), meyakini bahwa pemilihan umum yang demokratis adalah cara yang paling baik. Kaum Liberal menganggap semua orang setara dan harus memiliki kesempatan yang sama menyangkut hak-hak ekonomi dan politik. Sementara itu, kaum

Sosialis lebih mementingkan tujuan akhir, sedangkan kaum Konservatif menganggap manusia secara inheren tidaklah sama, dan karena itu harus diperlakukan secara berbeda-beda.

Nah, Anda bisa memutuskan ada di mana Anda dalam spektrum ekonomi-politik yang beragam itu.

24 November 2008

Perang Pemikiran

By Luthfi Assyaukanie
Source: Jawa Pos, 31 May 2004

Istilah “ghazwul fikri” sangat populer di kalangan kelompok pergerakan Islam. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang secara literal berarti “perang pemikiran.” Tak jelas siapa yang pertama kali menggunakannya. Karya-karya Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Said Hawwa, dan para ideolog Ikhwanul Muslimin kerap menggunakan istilah ini dengan semangat “perang salib.”

Para pengguna istilah ini meyakini bahwa pemikiran-pemikiran yang datang dari Barat cenderung bersifat menyerang dan memberikan dampak buruk bagi kaum Muslim. Pemikiran-pemikiran itu dapat meracuni dan menjauhkan kaum Muslim dari agama Islam. “Karenanya,” tulis Muhammad Qutb, “perang pemikiran lebih berbahaya daripada perang fisik.” Mereka juga meyakini adanya “teori pengaruh.” Yakni bila orang-orang Islam banyak membaca karya-karya orang Barat dan kaum orientalis, maka ia telah terpengaruh dan terperangkap dalam jaring Zionisme dan Salibis.

Saya kira, “ghazwul fikri,” “teori pengaruh,” atau apapun namanya, haruslah dipandang dengan kritis. Karena setiap pemikiran, apapun dan dari manapun sumbernya, adalah sebuah bentuk “peperangan” dan pasti punya pengaruh terhadap seseorang yang menggelutinya.

Tidak ada dalam sejarah, kaum Muslim yang mengkaji dan menggeluti pemikiran Barat, menjadi perusak di muka bumi ini. Malah sebaliknya, mereka menjadi para pembaru yang namanya tercatat harum dalam sejarah pemikiran Islam modern. Sebutlah Rif’at Tahtawi, Muhammad Abduh, Al-Kawakibi, Taha Hussein, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Syed Hussein Nasr, Hassan Hanafi, dan Nurcholish Madjid. Mereka semua dianggap para pembaru yang punya kontribusi besar bagi pemikiran Islam.
Tapi sebaliknya, bagi orang-orang yang membaca karya-karya para pendukung “ghazwul fikri” dan teori pengaruh, telah jelas-jelas pernah melakukan perusakan dan kekerasan di muka bumi ini. Contohnya saja Usamah bin Laden dan ke-19 teroris yang meledakkan gedung WTC pada 9 September 2001. Orang-orang ini akrab dengan buku-buku Sayyid Qutb. Dalam sebuah wawancaranya jauh sebelum peristiwa 9/11, Usamah mengakui bahwa Fi Dhilal al-Qur’an karya Sayyid Qutb adalah buku yang paling berpengaruh dalam dirinya.
Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim sekarang adalah melawan pemikiran-pemikiran simplistis dan bodoh, yang kerap mengajak umat Islam terus-menerus mencurigai, membenci, dan mencaci “musuh” mereka, padahal musuh sesungguhnya adalah diri mereka sendiri.
Sudah saatnya kaum Muslim berpikir positif, terbuka, kritis, dan berani mengambil posisinya sendiri tanpa dikuasai oleh pemikiran-pemikiran otoriter yang mengatasnamakan agama.
Ghazwul fikri yang paling penting bagi kaum Muslim adalah melawan pemikiran-pemikiran rasis, tak toleran, dan selalu membenci kelompok lain. Sebagian pemikiran-pemikiran itu adalah warisan dari masa silam, dan sebagian lainnya adalah ciptaan mereka sendiri karena mengidap sizofrenia anti-Barat dan orientalisme.

03 April 2008

Runtuhnya Islam Badawi

Oleh Luthfi Assyaukanie

eseiMeski berhasil keluar sebagai pemenang dan mampu membentuk pemerintahan, koalisi partai Barisan Nasional (BN) sebetulnya mengalami pukulan keras dalam pemilihan umum Malaysia yang baru lalu. Yang paling terpukul tentu saja adalah Abdullah Ahmad Badawi, ketua koalisi yang sekaligus perdana menteri Malaysia. Padahal dalam empat tahun terakhir, dia sudah berusaha keras untuk mempertahankan supremasi BN di pentas politik negeri jiran itu.

Dua negara bagian penting, yakni Kuala Lumpur dan Penang, jatuh ke tangan oposisi. Yang menyakitkan, kekalahan di dua negara bagian ini sangat telak. Di Kuala Lumpur, BN hanya mendapat satu kursi dari 11 kursi yang diperebutkan. Sementara di Penang, BN kebagian dua kursi dari 13 kursi yang diincar. Penang adalah negara multietnis tempat kelahiran Badawi.

Namun, yang paling menyakitkan dari itu semua adalah pecahnya puak Melayu dalam memberikan dukungan kepada Badawi. Dua partai opisisi yang berhasil menggerogoti supremasi BN adalah partai yang didominasi orang-orang Melayu, yakni PAS, partai Islam yang dikenal kritis terhadap penguasa, dan PKR, partai baru yang didirikan mantan deputi PM Malaysia, Anwar Ibrahim.

Selama lebih dari tiga dekade, secara politik, puak Melayu disatukan oleh UMNO, partai besar yang memimpin koalisi BN. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak konflik politik antara mantan PM Mahathir dengan Anwar Ibrahim, gelombang ketidakpuasan terhadap UMNO semakin meningkat. Badawi mencoba mengatasi situasi itu dengan mendekati puak Melayu sambil terus merawat hubungan baik dengan etnis lain, khususnya Cina dan India.

Dia memperkenalkan Islam Hadhari, yakni sebuah konsep politik yang dapat memberikan kejayaan dan kemajuan bagi rakyat Malaysia. Dalam berbagai forum, Badawi menjelaskan bahwa Islam Hadhari bukan hanya bertujuan memajukan kaum Muslim Melayu, tapi juga membangun kerjasama dengan etnis-etnis lain yang ada di Malaysia. Islam Hadhari diproyeksikan sebagai payung untuk melindungi seluruh warga negara dalam semangat kebebasan dan toleransi.

Namun, Islam Hadhari yang diperkenalkan Badawi tampaknya hanya sekadar retorika belaka. Sambil terus mempromosikan konsep itu, dia melakukan kebijakan-kebijakan politik yang sesungguhnya bertentangan dengan semangat Islam Hadhari. Misalnya, dalam dua tahun terakhir pemerintahannya, Badawi adalah penguasa Malaysia yang paling sering mengeluarkan daftar buku-buku terlarang, khususnya buku-buku yang terkait dengan sejarah dan pemikiran Islam.

Di masa Badawi juga terjadi praktik diskriminasi ras dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama yang cukup serius. Hampir tiap minggu ada saja kasus pelecehan terhadap kebebasan beragama warga-negara yang dilakukan aparat penguasa. Puncaknya adalah demonstrasi besar warga etnis India di Kuala Lumpur beberapa bulan lalu. Itu adalah demonstrasi anti-diskriminasi terbesar sejak kerusuhan etnis di Malaysia hampir 40 tahun silam.

Islam Hadhari atau lebih tepatnya Islam Badawi telah gagal menghadirkan kedamaian dan kebebasan bagi setiap warga. Pemilu yang baru lalu membuktikan bahwa rakyat Malaysia tidak menginginkan Islam Badawi yang penuh diskriminasi dan pelanggaran terhadap kebebasan warga-negara. Mereka memprotes dengan cara mereka sendiri, yakni tidak memilih koalisi Barisan Nasional pimpinan Abdullah Ahmad Badawi.


*kali pertama tersiar di http://islamlib.com, penulis merupakan salah seorang editor Jaringan Islam Liberal. Beliau selain menjadi editor di Jaringan Islam Liberal beliau juga merupakan seorang penulis bebas yang menulis di pelbagai judul penerbitan di Malaysia.