Memaparkan catatan dengan label esei. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label esei. Papar semua catatan

02 Januari 2009

Ada di Manakah Anda Secara Ideologis?

Oleh: Luthfi Assyaukanie

“Hari gini masih ngomongin ideologi,” mungkin Anda akan bilang begitu. Daniel Bell juga sudah sejak tahun 1960 menegaskan berakhirnya ideologi. Sebagai pertarungan wacana, ideologi mungkin sudah basi. Namun, sebagai instrumen untuk mengidentifikasi perilaku dan sikap politik seseorang, ideologi masih berguna dan masih sangat hidup.

Saya baru membaca buku tipis yang memetakan ideologi-ideologi dunia. Yang menarik, dari kelima ideologi yang disebutkan dalam buku itu, Liberalisme adalah ideologi yang paling prospektif, karena ia berada di tengah-tengah spektrum ekonomi-politik.

Dengan peta itu, Anda juga bisa mengukur diri Anda sendiri, apakah Anda seorang liberal atau bukan.

Kelima ideologi utama dunia itu adalah: (i) Komunisme, (ii) Sosialisme, (iii) Liberalisme, (iv) Konservatisme, dan (v) Fasisme. Jika kita identifikasi mereka dengan menggunakan spektrum ekonomi-politik, maka kita akan mendapatkan persamaan sebagai berikut:
Komunisme = Kiri Ekstrim
Sosialisme = Kiri
Liberalisme = Tengah
Konservatisme = Kanan
Fasisme = Kanan Ekstrim

Saya akan menjelaskan secara singkat masing-masing ideologi itu dan mengapa spektrum ekonomi-politik masing-masing ideologi itu menjadi demikian.
Komunisme adalah paham yang menekankan pentingnya kehidupan sosial ketimbang kehidupan individu. Dalam hal ini, Komunisme dan Sosialisme berada dalam satu perahu. Komunisme dan Sosialisme juga sepandangan dalam hal redistribusi ekonomi. Mereka menganggap redistribusi kekayaan sebagai sesuatu yang penting. Komunisme dan Sosialisme sama-sama meyakini bahwa kepentingan pribadi harus disubordinasikan untuk kebaikan bersama, kebaikan masyarakat sekaligus.

Yang membedakan Komunisme dari Sosialisme adalah bahwa yang pertama menggunakan cara-cara radikal, seperti revolusi, dalam melakukan perubahan, sementara yang kedua menggunakan cara-cara yang damai, seperti pemilihan umum. Itulah sebabnya, Komunisme berada dalam barisan Kiri Ekstrim sementara Sosialisme pada barisan Kiri saja.

Konservatisme adalah paham yang mengajarkan bahwa kehidupan organis, yakni kehidupan yang teratur rapi dan terstruktur, adalah kehidupan yang ideal. Fasisme juga memiliki kesamaan pandangan dalam hal ini. Keteraturan organis adalah sesuatu yang harus ditegakkan. Baik kaum Konservatif maupun kaum Fasis sama-sama menganggap bahwa manusia pada dasarnya tidaklah sama. Manusia berbeda secara agama maupun rasial.

Kaum Konservatif religius menganggap bahwa dirinya lebih luhur dari manusia lain yang berbeda agama darinya. Kaum konservatif religius merasa bahwa hukum yang diinspirasikan dari Tuhan lebih agung dari hukum manusia. Hukum-hukum agama tertentu umumnya bersikap diskriminatif dan memprioritaskan pemeluknya saja ketimbang memberikan pelayanan secara adil dan setara.

Kaum Fasis juga memiliki pandangan yang sama dengan kaum Konservatif dalam hal superioritas kelompok. Hanya saja, jika kaum Konservatif melakukan itu untuk menjamin jalannya kebebasan dan keteraturan, kaum Fasis hanya menekankan keteraturan saja dan mengabaikan kebebasan. Kaum Konservatif bersikap seperti itu untuk merawat nilai-nilai tradisional, sementara kaum Fasis melakukannya demi kemenangan ras.

Yang membedakan kaum Konservatif dari kaum Fasis adalah jika yang pertama masih percaya pada pemilihan umum yang demokratis sebagai cara yang damai dan beradab, kaum Fasis menggunakan kudeta atau mencurangi pemilihan umum demi melakukan perubahan politik. Inilah yang menjelaskan mengapa kaum Konservatif berada di Kanan dan kaum Fasis berada di Kanan Ekstrim.

Liberalisme adalah paham yang menekankan pentingnya kebebasan dan kesetaraan politik. Orang-orang liberal lebih mementingkan individu ketimbang sosial dan berjuang untuk menerapkan persamaan kesempatan. Jika kaum Komunis dan Sosialis mementingkan redistribusi ekonomi, sementara kaum Konservatif mementingkan nilai-nilai liberal dan kaum Fasis mementingkan kemenangan ras, kaum Liberal mementingkan perlindungan terhadap kebebasan individu. Kebebasan individu adalah segala-galanya.

Dalam hal perubahan politik, baik Sosialisme (Kiri), Konservatisme (Kanan), maupun Libralisme (Tengah), meyakini bahwa pemilihan umum yang demokratis adalah cara yang paling baik. Kaum Liberal menganggap semua orang setara dan harus memiliki kesempatan yang sama menyangkut hak-hak ekonomi dan politik. Sementara itu, kaum

Sosialis lebih mementingkan tujuan akhir, sedangkan kaum Konservatif menganggap manusia secara inheren tidaklah sama, dan karena itu harus diperlakukan secara berbeda-beda.

Nah, Anda bisa memutuskan ada di mana Anda dalam spektrum ekonomi-politik yang beragam itu.

30 Disember 2008

Hijrah: Bukti Tingginya Nilai Kebebasan Dalam Islam

Oleh: Amin Ahmad

Meskipun tarikh sebenar Hijrah Nabi s.a.w. ialah pada akhir bulan Safar, iaitu bulan kedua kalendar Hijrah, umat Islam telah lama menyambut semangat Hijrah pada 1 Muharam sebagaimana mula di zaman Saidina Umar r.a.. Rasulullah s.a.w. dan Saidina Abu Bakar r.a. akhirnya tiba di Madinah pada 12 Rabiul’awal – sama dengan tarikh kelahiran dan kewafatan Baginda s.a.w..

Peristiwa Hijrah ternyata satu peristiwa yang sangat penting bagi umat Islam. Di Malaysia, cuti umum diberikan bagi menghormati tarikh ini. Sebagai seorang muslim, saya tidak dapat mengelak untuk mengambil tahu bagaimana peristiwa ini muncul dan apakah pelajaran penting daripadanya.

Umat Islam tidak dapat mengelak daripada membincangkan pengalaman sirah Baginda s.a.w. dan para sahabat r.a. untuk dijadikan panduan bagi menghadapi realiti zaman moden terutama dari segi prinsip dan tindakan yang harus diambil berkaitan sesuatu peristiwa. Maka saya melihat ada pelajaran yang cukup besar dari peristiwa Hijrah ini.

Peristiwa Hijrah berlaku dengan izin Allah s.w.t. bersandarkan nas dan juga hadis Nabi s.a.w.. Umum maklum ketika itu Rasulullah s.a.w. dan para sahabat r.a. mendapat tentangan hebat daripada sekelompok kaum yang tidak senang dengan dakwah Islam yang dibawa oleh Baginda s.a.w..

Hasil daripada peristiwa Hijrah, umat Islam maklum bahawa telah terbinanya sebuah ‘Negara Islam’ yang pertama dikenali sebagai Madinah al-Munawwarah atau Madinah Bandar yang Bercahaya. Dari peristiwa Hijrah ini juga Rasulullah s.a.w. telah mempersaudarakan suku kaum yang pelbagai dan sebagaimana saya telah ungkapkan dalam artikel Islam dan Hak Pemilikan Harta, Abdul Rahman bin ‘Auf r.a. yang meninggalkan hartanya di Mekah telah berhasil memanfaatkan pasaran bebas dan jaminan hak pemilikan harta di Madinah untuk kembali menjadi seorang yang paling kaya pada waktu itu.

Pelajaran pertama di sini ialah Rasulullah s.a.w. tidak pernah menggunakan label Negara Islam dan juga Rasulullah s.a.w. menjamin pasaran bebas serta hak pemilikan harta. Ya, Piagam Madinah memang tertulis Al-Quran dan As-Sunnah menjadi sumber hukum, dan saya tertanya bagaimana Rasulullah s.a.w. berunding mendapatkannya dengan aman dan bukan paksaan atau ugutan.

Saya pernah berbual dengan seorang aktivis Parti Islam se-Malaysia (PAS) apabila timbul pertikaian politik di Malaysia tentang hak menjadi pemerintah untuk bangsa lain. Ia bermula apabila di negeri Perak, majoriti kerusi dimiliki oleh mereka bukan Islam. Pengalaman di Malaysia adalah sangat unik kerana agama Islam diikat dengan definisi bangsa. Umat Islam dan Bangsa Melayu di Perak ‘diselamatkan’ oleh Undang-Undang Tubuh Kerajaan Negeri yang mewajibkan Bangsa Melayu dan Penganut Islam menjadi Menteri Besar di sana.

Seperti biasa, ayat surah Al-Baqarah:120 dipetik untuk menjustifikasikan sikap ‘anti’ kepada bukan Islam meskipun ketika saya meneliti sebab turun ayat ini, ia tidaklah sejauh kebencian mendalam umat Islam kepada Yahudi dan Nasrani seperti yang berlaku pada masa kini.

Saya berpendapat sebaliknya. Dari peristiwa Hijrah, saya menemukan bagaimana Rasulullah s.a.w. membenarkan sebilangan sahabat r.a. untuk mendapatkan perlindungan daripada Raja Najasyi yang jelas bukan seorang Islam tetapi sangat dikenali kerana keadilannya. Seperkara lagi, Rasulullah s.a.w. sendiri adalah contoh jelas bagaimana orang dari luar Madinah yang boleh diangkat menjadi pemimpin bagi masyarakat di sana. Ini adalah pelajaran lain yang boleh diambil daripada peristiwa Hijrah.

Berkaitan dengan persoalan ini juga, saya bertanyakan aktivis PAS ini tentang kenapa sebilangan ulama’ atau pemikir muslim yang hebat dan sering menjadi panduan umat Islam akhirnya memilih negara Barat yang sering dikecam sebagai sekular ketika mendapatkan mereka ditindas di negara masing-masing? Pada hemat saya, kebebasan dan kedaulatan undang-undang (Rule of Law) yang wujud di ‘negara sekular’ inilah akhirnya memberikan mereka tempat untuk berlindung daripada ditindas sekaligus membenarkan mereka (dengan izin Allah s.w.t.) melontarkan pandangan jernih tentang Islam. Kesannya, kita di Malaysia mendapat berita yang cukup banyak bagaimana Islam berkembang dengan baik di negara Barat sedangkan ada khabar sebaliknya di negara Islam (yang dikatakan antara terbaik di dunia).

Dalam satu riwayat Rasulullah s.a.w. berkata tentang Abu Nu’aim yang dirayu agar tidak berhijrah bersama Rasulullah s.a.w. kerana sebelumnya telah banyak menyumbang kepada anak yatim, janda dari kaumnya di mana kaumnya berjanji untuk membelanya dari gangguan yang lain. Sabda Rasulullah s.a.w. “Kaumku telah menghalauku dan mahu membunuhku. Sedangkan kaummu memelihara dan membela kamu”.

Dari apa yang saya cuba gariskan dalam tulisan di atas, saya fikir ada sesuatu bersifat dasar dari permasalahan umat Islam kini, khususnya di negara yang saya cintai ini. Umat Islam sering cemburukan kebebasan dan mahu memisahkannya dalam konteks kebebasan bergerak seiring dengan keadilan.

Baru-baru ini polemik hudud muncul kembali. Isu ketuanan bangsa dan ketuanan agama juga silih berganti dan ia membuatkan saya rimas kerana ia muncul saban waktu tanpa saya nampak jelas ada kebebasan yang ditawarkan selain kecenderungan yang kuat untuk menjadi autoritarian.

Saya sangat percaya autoritarian tidak pernah menjadi jawapan kenapa Rasulullah s.a.w. berjaya menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai dasar negara. Kita juga tak harus berbangga menjadi antara negara Muslim terbaik kerana dari segi statistik rasuah dan kelemahan pengurusan ekonomi, negara Muslim cukup unggul mengisi ruang di tangga terbawah.

Sempena Maal Hijrah, elok kita fikirkan apa yang patut kita ubah.

-------------------

Noor Amin bin Ahmad, 26 ialah Penyelidik di Malaysia Think Tank dan mantan pimpinan pelajar di Universiti Putra Malaysia.

14 Disember 2008

Apakah Istilah “Allah” Hanya Milik Umat Islam?

Oleh Ulil Abshar Abdalla

SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”.

Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?)

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?

Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.

Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.

Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang dalam”, tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya.

Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.

Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Ha’irin (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.

Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard (baca Al-Kitab al-Muqaddas edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.

Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara“, 2007).

Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, “The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature“, 2001).

Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang), saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.

Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah “asli” milik umat Islam, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali.

JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.

Penegasan bahwa kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja adalah bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh “kllik” tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada perasaan terancam itu.

Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan “beda” jelas alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah “Allah” adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.

Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad — apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang “lucu” dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi.

Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.

Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara mereka sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.[]

Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia itu.

07 November 2008

Menyekat totalitarianisme agama

Oleh: Mustafa Akyol (waubebas.org)

Saya ada terbaca satu komen daripada Yusuf al-Qardhawi yang disiarkan dalam sebuah akhbar Turki, Vakit. Sheikh Qardhawi berkata bahawa “Kejayaan hanya akan dicapai apabila manusia kembali kepada Islam”. “Kejayaan” yang dimaksudkan oleh beliau ialah apabila umat Islam berjaya mengalahkan Israel. Laporan menyebut bahawa dalam satu ucapan di Qatar, beliau turut berkata “Negara Yahudi itu boleh dihancurkan hanya apabila umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang sebenar”.

Ini merupakan satu retorik yang biasa kita dengar daripada golongan Islamis. Setiap kali berhadapan dengan apa-apa masalah, mereka berkata “Islam adalah penyelesaian”. Mereka menganggap bahawa Islam adalah jalan untuk mencapai kejayaan di dunia ini. Dan, secara tidak langsung, ini berbeza dengan maksud tradisi Islam iaitu untuk mencapai kejayaan di akhirat.

Resipi ke arah totalitarianisme

Al-Quran mengarahkan umat Islam agar berdoa “Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”. Maka memang wajarlah umat Islam turut mengharapkan kejayaan di muka bumi. Tetapi ini bukan bermaksud kita boleh mendakwa bahawa apabila Islamisme dipraktiskan maka negara-negara umat Islam akan “berjaya” seperti yang dimaksudkan di atas. Pandangan sebegini hanya menjadikan Islam sebagai satu “sistem” yang dilaksanakan untuk mencapai kejayaan politik atau kejayaan ketenteraan. Ia menurunkan status Islam kepada sebuah ideologi semata-mata.

Dalam kata lain, sementelahan matlamat Islamisme ialah “kejayaan”, matlamat Islam sebenarnya ialah mardhatillah (keredhaan Allah). Inilah sebabnya kenapa golongan Islamis hampir sama dengan golongan sekular yang memisahkan agama daripada ketuhanan.

Profesor Cantwell Smith pernah menulis mengenai pemisahan ketuhanan daripada politik dalam kajian beliau terhadap evolusi Jurnal Al-Azhar daripada tahun 1930 hingga 1948. Bermula daripada tahun 1930 hingga 1933, jurnal tersebut diedit oleh Al-Khidr Husain, seorang Muslim tradisionalis. Jurnal tersebut penuh dengan perbincangan mengenai akhlaq dan teologi. Tetapi apabila Farid Wajdi mengambil alih peranan sebagai Editor pada tahun 1933, kandungannya berubah menjadi politik. Farid Wajdi berusaha meyakinkan pembaca bahawa Islam boleh berfungsi sebagai sebuah sistem dan manusia akan selamat di bawah sistem tersebut. Menurut Profesor Cantwell Smith, kepimpinan Farid Wajdi menyebabkan jurnal tersebut tidak lagi bersifat ketuhanan dan tuhan jarang-jarang sekali timbul dalam teks-teks yang disiarkan.

Karen Armstrong, seorang pengkaji agama yang prolifik, berjaya menggarap isu ini dengan tuntas dalam buku beliau “A History of God”. Beliau berkata bahawa aktivisme politik yang membayangi gerakan fundamentalisme moden sebenarnya merupakan satu pengunduran daripada konsep ketuhanan.

Ini boleh dilihat di merata-rata tempat dalam dunia umat Islam. Jika kita bercakap dengan seorang Muslim tradisionalis, kita akan mendengar mengenai kepentingan mematuhi perintah Allah, perlunya kita bersyukur untuk rezeki yang kita terima, dan kenapa kita perlu mendidik anak-anak dengan akhlaq yang baik. Tetapi jika kita berbicara dengan seorang Islamis, kita akan mendengar mengenai keburukan Barat dan betapa Islam akan “menyelamatkan” manusia daripada kapitalis, imperialis, atau Zionis. (Mungkin juga tidak pelik jika katakan bahawa tatkala seorang Muslim tradisional melihat idea-idea sosialis-marxis sebagai fahaman buruk yang menolak ketuhanan, golongan Islamis pula agak berminat dan ada yang menganuti idea-idea ini).

Semua ini menjelaskan kepada kita kenapa Islamisme ialah satu resipi ke arah totalitarianisme. Jika ada pihak yang merasakan bahawa masyarakat semuanya boleh menjadi “baik” jika mereka mengamalkan suatu bentuk Islam, maka pihak tersebut boleh sahaja memaksa rakyat menjadi “bertakwa” agar matlamat kolektif mereka tercapai. Jika mereka melihat Islam sebagai suatu sistem, seperti sosialisme, mereka akan menggunakan kuasa pemerintahan untuk memaksa setiap individu rakyat mengikut acuan yang mereka tentukan. Maka dengan itu lahirlah “polis agama” yang berfungsi untuk memaksa wanita memakai tudung atau memaksa lelaki pergi ke masjid.

Sebaliknya jika yang kita lebih pentingkan ialah nasib masyarakat, maka kita akan lebih peduli mengenai pandangan rakyat terhadap tindak tanduk kita. Al-Quran jelas menyebut bahawa tidak ada paksaan dalam beragama. Kita tidak boleh menjadikan rakyat lebih “bertakwa” dengan cara memaksa mereka melakukan sesuatu perkara. Itu hanya akan membuatkan mereka membenci agama yang kita paksakan ke atas mereka.

Sebab kekalahan dan mengembalikan kejayaan

Kita harus memahami apa yang menyebabkan Islamis berfahaman seperti sekarang. Kebanyakan pakar yang mengkaji mengenai Islamisme mengatakan bahawa ia sebenarnya adalah sebuah ideologi moden yang bermula pada kurun ke-19 dan memuncak pada kurun ke-20. Ciri utama zaman tersebut ialah krisis teruk yang dialami oleh umat Islam yang mana mereka dikalahkan dari segi ketenteraan, politik dan juga kebudayaan. Dan mereka mula mencari sebab kenapa semua ini berlaku.

Dalam menjawab soalan “Kenapa ini berlaku?”, timbul dua bentuk kumpulan yang kedua-duanya beranggapan bahawa agama adalah faktor terpenting. Golongan Islamis berkata “Kita dikalahkan oleh Barat kerana kita telah meninggalkan agama, maka kita perlu mengembalikannya”. Manakala golongan sekular pula berkata “Kita dikalahkan oleh Barat kerana agama telah menipu kita, maka kita perlu menolak agama”. Dan daripada dua fahaman itu lahirlah dua bentuk rejim autoritarian (lihat Iran dan Turki sebagai contoh).

Saya lebih selesa dengan jawapan ketiga iaitu umat Islam dikalahkan akibat daripada pelbagai faktor yang kompleks yang mengakibatkan ia jauh daripada arus modernisasi. Ini tidak ada kena mengena dengan agama. Dengan itu, penyelesaiannya bukanlah dengan proses Islamisasi paksaan ataupun sekularisasi paksaan. Apa yang perlu untuk kita mencapai kejayaan ialah modernisasi melalui pendidikan, sains, teknologi, kapitalisme dan demokrasi.

Islamisme akan hilang pengaruh hanya jika cara ketiga ini berjaya. Dan cara ini berkembang baik di Turki sejak kebelakangan ini. Tetapi puak sekular-fasis terlalu keras untuk menghalang ia daripada terus berkembang. Jika puak sekular-fasis ini berjaya dalam menghalang arus pemodenan Turki yang mesra-Islam, hanya golongan Islamis yang akan bergembira. Malahan pertembungan antara dua bentuk totalitarianisme – Islamis dan sekularis – akan menjadi lebih hangat pula.

---------------
Mustafa Akyol ialah seorang kolumnis berbangsa Turki yang menetap di Istanbul.


Najib ditampar 'revolusi' di Parlimen

Oleh Khalid Jaafar

Semalam apabila dunia meraikan kemenangan Barrack Obama sebagai presiden baru Amerika Syarikat, rakyat Malaysia juga memperolehi sesuatu untuk mereka rayakan.

Peristiwa itu adalah kemenangan institusi Parlimen apabila pindaan belanjawan bernilai RM7 bilion ditolak. Belum pernah seorang timbalan perdana menteri dan juga menteri kewangan menerima tamparan sebegitu hebat dalam sejarah politik dan parlimen Malaysia.

Malangnya rakyat Malaysia tidak merayakannya kerana majoriti tidak tahu apa yang sebenarnya telah berlaku kerana kegagalan media melaporkan sejarah yang dicipta oleh institusi ulung demokrasi kita.

Majoriti yang mengundi pada 8 Mac lalu merasakan mereka telah melaksanakan tanggungjawab demokrasi mereka dengan mencipta tsunami politik tetapi selepas itu tidak mengikuti apa yang berlaku di Dewan Rakyat dengan teliti dan memantau perilaku wakil-wakil rakyat yang mereka hantar ke Parlimen.

Persepsi umum adalah pembangkang tidak boleh berbuat apa-apa yang berkesan selagai mereka tidak dapat membentuk sebuah kerajaan baru.

Tetapi persepsi ini akan berubah dengan insiden yang berlaku semalam. Bagi saya, peristiwa itu suatu revolusi.

Tahniah perlu diberikan kepada Datuk Seri Anwar Ibrahim sebagai Ketua Pembangkang, ahli parlimen veteran Lim Kit Siang (DAP-Ipoh Timur), Datuk Kamarudin Jaffar (PAS-Tumpat) dan Khalid Samad (PAS-Shah Alam).

Tanpa kepetahan mereka berhujah, kefahaman mereka yang mendalam tentang peraturan mesyuarat, dan fanatisme mereka terhadap kedaulatan Parlimen, revolusi semalam tidak dapat dilancarkan.

Namun hujah-hujah yang dikemuka oleh barisan pembangkang semalam tetap akan tinggal sebagai satu peristiwa dalam rentetan drama kekecohan Dewan Rakyat sekiranya yang dipertua dewan Tan Sri Pandikar Amin Mulia dan timbalannya Datuk Wan Junaidi Tuanku Jaafar sendiri tidak mengambil pendirian yang bersejarah.

Tanpa ketegasan, dan tentunya keberanian mereka, Parlimen tidak akan menjadi parlimen yang baru semalam.

Dalam revolusi parlimen tersebut Datuk Seri Mohd Najib Razak menerima tamparan yang paling hebat. Ia belum pernah berlaku dalam sejarah politik dan parlimen Malaysia.

Menteri kewangan yang masih merayakan kemenangannya sebagai presiden Umno tanpa cabaran memaklumkan pakej rangsangan sebayak RM7 bilion dalam ucapan menggulung perbahasan belanjawan 2009.

Najib menggunakan ucapan penggulungannya itu untuk menyindir "mimpi" Anwar yang tidak kesampaian bagi membentuk kerajaan baru. Singgungan politik yang dibuat oleh timbalan perdana menteri itu bukanlah suatu yang baru.

Menjadi haknya untuk memasukkan unsur politik membelasah pembangkang dalam ucapannya. Tradisi mempolitikkan ucapan belanjawan bermula pada Tun Daim Zainuddin lagi dan sampai puncaknya ketika Anwar menjadi menteri kewangan.

Tetapi ada perbedaan perilaku parlimen Anwar dengan Najib sebagai menteri kewangan. Anwar, setelah membelasah pembangkang dalam ucapan belanjawannya, akan duduk mendengar dengan teliti hujah dan kritikan pembangkang terutamanya ucapan dari ketua pembangkang.

Dan dalam waktu penggulungan dan perbahasan, Anwar memberikan laluan untuk pembangkang mencelah dan menyoal. Tetapi Najib cuma datang ke Dewan Rakyat untuk memberi ucapan dan tidak memberikan laluan sama sekali bagi pembangkang untuk mencelah.

Maka apabila Anwar dalam sidang akhbarnya semalam membelasah timbalan perdana menteri sebagai "tidak memiliki keyakinan diri" kerana enggan berbahas, ia merupakan suatu yang sungguh serius.

Dan tuduhan tersebut akan membayangi Najib, sebagaimana skandal-skandal lain membayanginya, selagi menteri kewangan tersebut tidak merobah perilaku parlimennya.

Mengapakan Najib yang sudah begitu lama menjadi ahli parlimen, sekian tahun menjadi menteri kanan, membuat suatu kesilapan yang begitu besar?

Apakah keseronokan beliau mewarisi takhta kepresidenan Umno menyebabkan beliau cuai dalam urusan Dewan Rakyat?

Saya melihat Najib dan pemimpin-pemimpin kanan BN masih lagi dalam situasi penafian selepas tsunami Mac lepas. BN sudah kehilangan majoriti dua pertiga tetapi beliau masih lagi terperangkap dalam bayangan majoriti dua pertiga.

Selama ini menteri-menteri BN hanya melihat Dewan Rakyat sebagai rubber stamp, sekadar satu formaliti untuk meluluskan apa yang telah diputuskan oleh eksekutif.

Tidak terbayang bagi mereka cadangan daripada kerajaan, apabila satu cadangan yang begitu penting seperti pindaan belanjawan berjumlah RM7 bilion boleh ditolak oleh parlimen.

Mereka tahu ada pemisahan kuasa antara badan legislatif dengan eksekutif, tetapi pada mereka pemisahan ini hanya pada peringkat teori, tetapi tidak pernah berlaku pada peringkat amalan.

Maka semalam apabila Dewan Rakyat mengumumkan perbahasan Rang Undang-undang Perbekalan (iaitu belanjawan) masuk ke peringkat jawatankuasa,wakil-wakil pembangkang seorang demi seorang bangun menanyakan belanjawan yang mana satu hendak dibahaskan.

Belanjawan yang dibentangkan oleh perdana menteri sebagai menteri kewangan pada 29 Ogos lepas atau belanjawan yang telah dipinda oleh timbalannya sebagai menteri kewangan yang baru dengan tambahan sebanyak RM7 bilion?

Peraturan mesyuarat memerlukan cadangan pindaan itu dibentangkan dan sebelum dibentang, ia perlu diedarkan dua hari sebelumnya untuk memberikan masa yang cukup untuk ahli parlimen menelitinya.

Najib tidak mengikut prosedur ini, beliau hanya memberi ucapan dan dalam ucapan tersebut mengandungi cadangan pindaan.

Tanpa pindaan itu dibentangkan mengikut peraturan mesyuarat, ia tidak boleh dibahaskan dan tidak boleh diluluskan. Kelihatannya perkara ini hanya bersifat teknikal. Tetapi inilah tuntutan perlembagaan.

Sekiranya prosedur ini tidak ikuti, maka pembangkang boleh membawa isu ini ke mahkamah kerana telah berlaku suatu pelanggaran perlembagaan. Dan yang dipertua dewan dan timbalannya amat sedar perkara itu.

Sekiranya mereka membenarkan cadangan pindaan belanjawan Najib dibawakan kepada peringkat jawatankuasa, ia bermakna mereka yang membenarkan pelanggaran perlembagaan berlaku dalam majlis yang dipengerusikan mereka.

Tetapi media tidak dapat menangkap revolusi yang diciptakan oleh Pandikar Amin.

Akhbar Sinar Harian hanya melaporkan bahagian ucapan beliau: "pengumuman pakej rangsangan ekonomi bernilai RM7 billion tidak melanggar peraturan mesyuarat."

Betul, pengumuman itu tidak melanggar peraturan. Tetapi RM7 bilion itu tidak boleh menjadi sebahagian daripada belanjawan 2009. Maka jumlah tersebut tidak boleh dikeluarkan oleh pihak kerajaan.

Mohd Azmin Ali (PKR-Gombak) dan Kit Siang bangun untuk meminta penjelasan daripada speaker untuk tidak berlaku salah faham. Dalam penjelasannya, Pandikar Amin tidak mengatakan beliau menolak pindaan belanjawan yang diumumkan oleh Najib.

Beliau hanya menjelaskan dengan berulangkali bahawa belanjawan yang akan dibahaskan pada peringkat jawatankuasa adalah belanjawan yang dibentangkan oleh Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi.

Dalam rumusannya, Anwar berkata pindaan belanjawaan yang diumumkan oleh timbalan perdana menteri hanyalah satu pandangan, ia tidak mempunyai kekuataan undang-undang.


Khalid Jaafar adalah pengarah eksekutif Institut Kajian Dasar (IKD) dan anggota Majlis Pimpinan Tertinggi (MPT) PKR


31 Oktober 2008

Tok 4 didapati tidak bersalah

Oleh Suhaimi Said

Rioh rendahlah di Balairong Seri apabila Tok 4 didapat tidak bersalah didalam pembunuhan janda anak dua dari kampong sebelah. Janda anak dua itu dibunuh dengan kejam, tangan kaki ditetas macam tali dan dibuang entah kemana; kedua-dua telinganya hilang; hidungnya jadi telopong; lehernya dipotong dan bercerailah antara kepala dan badan; badannya dicincang halus-halus, dan tidak apa yang tinggal
untuk dikenali.

Tetapi cincin, rantai leher dan jam tangannya dijumpai dirumah Mamat. Maka tertangkaplah Mamat, dan hasil siasatan, Zali dituduh bersama Mamat manakala Hashim dituduh bersubahat.

Puncanya amatlah tidak berpatutan. Janda anak dua itu membantu Tok Penghulu didalam usaha menjualkan tanah kepunyaan Tok Pawang kampong sebelah. Hasil dari jualan itu Tok Penghulu memperolehi RM15,000.00 sebagai komisyen; dijanjikan dari jumlah itu Janda anak dua berhak kepada RM500.00.

Ingin bertemulah Janda anak dua itu dengan Tok Penghulu, tetapi amat sukar kerana jawatan itu besar dan kalau ingin berjmpa pun mestilah di KFC di luar Negeri, sekurang-urangnya di Singapura, kalau tidak di Taiwan.

Maka berjumpalah Janda anak dua itu dengan anak buah Penghulu bernama Hashim. Memang mereka dapat berjumpa, tetapi Hashim pun tak berupaya untuk membayarkan komisyen bahagian Janda anak dua itu kerana yang mendapat komisyen itu ialah Penghulu.

Melalui kuasa yang ada sedikit kepadanya, Hashim berbincanglah dengan Mamat dan Zali, dan dipintalah Mamat dan Zali supaya menghindarkan Janda anak dua itu menemuinya atau Penghulu. Entah angkara siapa, Mamat dan Zali dilibatkan membunuh Janda anak dua, dan dari siasatan yang dijalankan Mamat dan Zalilah yang membunuh
Janda anak dua dengan Hashim dituduh bersubahat.

Senjata yang digunakan untuk pembunuhan itu diambil dari setor rumah Penghulu, bagaimana senjata itu jatuh ketangan Mamat dan Zali, tiada siasatan dibuat.
Didalam perbicaraan yang berlangsung beberapa bulan, Hashim dilepaskan dari tuduhan; tidak ada kes untuknya dilibatkan.

Mamat dan Zali dikehendakki membela diri, dan kalau didapati bersalah akan dihukum sampai mati. Kesian kepada Mamat dan Zali; kedua-duanya adalah kakitangan Penghulu,
tetapi tidak ada sebab atau motif untuk mereka membunuh. Sebelum kejadian itu mereka tak kenal pun Janda anak dua itu. Mereka tidak ada kuasa pun nak ambil senjata milik Penghulu. Janda anak dua itu tidak pernah menykitkan hati Mamat dan Zali, dan Mamat dan Zali pun tak pernah menyakitkan hati Janda anak dua.

Tetapi ada juga cerita dari Tok 4 kampong sebelah bahawa Penghulu ini pernah meniduri Janda anak dua itu; maka selain dari wang komisyen yang Penghulu itu terhutang; Penghulu itu juga takut rahsianya meniduri Janda anak dua itu diketahui umum, lebih-lebih lagi oleh isterinya yang gemuk gedempul itu.

Orang kampong berkata Penghulu itu yang terlibat dalam pembunuhan; tapi Penghulu lagi bijak; siapa berani usik dia; dia adalah manusia terkuat di Mukim itu. Ada juga anak buah yang membuat tuduhan, maka anak buah itu dipasung tanpa bicara; dan ada juga anak buah yang buat surat menuduh Penghulu; anak buah itu telah "dihilangkan" entah kemana.

Tak tahulah cerita seterusnya dan apakah nasib yang menimpa si Mamat dan Zali; alangkah aniayanya jika mereka berdua akan didapati bersalah dan menjalani hukuman gantung sampai mati.

Alhamdulillahlah, Hashim sudah terlepas; dia tidak bersalah dan telah terbukti tidak bersalah; tetapi takkanlah kesalahan itu perlu dipikul oleh Mamat dan Zali.

(Cerita ini berlaku dizaman sebelum kemasukan Jepun ke Malaya, dan tidak ada kena mengena dengan sesiapa yang hidup atau yang mati)


29 Oktober 2008

Saya Dah Cakap Lama Dah!!!

Oleh Zukri Aksah

Barack Obama meletak kata-kata ini sebagai signature kempennya dalam mengejar cita-citanya menjadi pemimpin kulit hitam Amerika pertama menerajui Rumah Putih, “Saya meminta untuk anda percaya, bukan hanya keupayaan saya untuk membawa perubahan sebenar ke Washington, saya meminta anda percaya akan keupayaan anda.”

Bukan tidak ada pemimpin kulit hitam Amerika yang cuba memasuki perlumbaan ke Rumah Putih sebelum-sebelum ini, tetapi belum ada yang berjaya dan tiada seorangpun yang seberjaya Obama. Kini rakyat Amerika mula memasang harapan baru dan Obama menjadi idola mereka, bukan setakat itu, kemunculan Obama juga telah merebak menjadi fenomena seluruh dunia.

Termasuklah di Malaysia ini. Ramai ahli politik yang mahu menjadi seperti Obama, berkempen ala Obama, mengangkat tangan ala Obama, laman web ala Obama, sampai pentas ceramah pun ada yang ala-ala kempen Pilihanraya Presiden Amerika itu. Tidak kiralah kalau sebelum ini totok menyokong atau pro Republikan (konservatif dan neo-konservatif), hari ini boleh bangga pula kalau ada orang menggelarnya Obama Malaysia.

Cuma Obama bila memutuskan untuk memasuki secara serius perlumbaan menerajui Rumah Putih dahulu meminta supaya rakyat Amerika bukan hanya mempercayainya untuk merobah Amerika, tetapi lebih dari itu meminta rakyat Amerika supaya mempercayai keupayaan mereka sendiri untuk melakukan perubahan.

Lain pula di Malaysia, atas premis yang sama, “perubahan,” Pakatan Rakyat yang diterajui Anwar Ibrahim memasuki Pilihanraya Umum 8 Mac 2008 yang lalu. Tetapi Anwar, melalui Pakatan Rakyat dalam usaha menguasai Putrajaya jelas membina projeksi yang berbeza berbanding Obama. Jentera kempen Pakatan Rakyat, terutama Parti Keadilan dan Anwar Ibrahim sendiri (sehingga hari ini) cuba menggambarkan kepada rakyat bahawa Anwarlah perubahan, Anwarlah “Dewa Perubahan (Reform Angel)” – sebab itulah segelintir kalangan penyokong Anwar telah menaikkan replika gergasi Anwar di Batu Cave (kalaupun itu bukan patung, sudah jelas ia tanda pendewaan).

Namun misi Anwar gagal sehingga hari ini. Selepas berjaya menafikan majoriti 2/3 Barisan Nasional dalam Pilihanraya Umum yang lepas dan selepas menang bergaya dalam Pilihanraya Kecil Permatang Pauh, Anwar dengan begitu yakin mewar-warkan yang beliau akan dapat mengambil-alih kerajaan persekutuan dengan melompatnya Ahli-Ahli Parlimen Barisan Nasional ke Pakatan Rakyat, paling mengejutkan bila tarikhnya diberi, 16 September 2008, hingga pada satu masa, jumlah Ahli Parlimen Barisan Nasional yang ingin melompat itu dikatakan bertambah setiap jam!

16 September dihampiri, tiba dan berlalu, tidak ada apa-apa berlaku, tarikh lain diberi, dan terus diberi, sehingga tidak bertarikh lagi, perubahan tidak berlaku juga. Mungkin agaknya sudah kebas mulut untuk berjanji manis, akhirnya melalui laporan The Malaysian Insider bertarikh 23 Oktober (laporan ini tidak dipetik oleh blog peribadi Anwar Ibrahim – memelikkan) Anwar telah memberi respon paling pesimis semenjak Pilihanraya Umum 8 Mac 2008. Ayat Anwar tidak lagi mengatakan bahawa pelan perubahan Malaysia melalui pengambil-alihan kuasa adalah satu keyakinan dan pasti tetapi telah menjadi opsyen yang semakin sukar.

Saya kadang-kadang tersenyum sendiri, ketawa dan sesekali menggeleng kepala bila mengikuti drama “rampasan kuasa berperlembagaan” Anwar Ibrahim ini. Sampai hari ini saya hairan bagaimana orang boleh begitu percaya kepada idea dan perancangan Anwar ini. Saya tidak percaya, saya dah cakap lama dah!!! Kalangan bawahan Parti Keadilan dan juga PAS dulu ramai yang bertanya saya soal ini, saya kata saya tidak percaya, ia tidak akan berlaku. Ya, saya akui Anwar punya karisma yang cukup hebat, pidato yang cukup memukau, siap lagu dan tarinya. Tetapi itu belum menjamin yang Anwar juga cukup hebat dan memukau bila berstrategi dalam politik, hujah saya cukup ringkas, kalau idea dan perancangan Anwar itu syumul sifatnya, ketika dalam Umno lagi dah dia berjaya menjadi Perdana Menteri, kalau ketika bersama parti yang memerintah pun dia gagal dan tersepak keluar, apa lagilah ketika ini yang berstatus pakatan pembangkang, memanglah memerintah di lima negeri, tetapi tetap pembangkang di lapan negeri yang lain, juga pembangkang di Dewan Rakyat. Kalau SAPP yang begitu lantang mahu mengusulkan undi tidak percaya kepada Pak Lah boleh tiba-tiba menikus, apa sangatlah yang boleh diharap dengan Ahli-Ahli Parlimen Barisan Nasional yang lain, beranikah mereka… Kalau dahulu Barisan Nasional pun tersungkur dalam usaha mengambil-alih Kerajaan Kelantan yang hanya berkelebihan dua kerusi (dan kini di Perak), macam mana kita boleh bermimpi untuk mengambil-alih Kerajaan Persekutuan yang mana Barisan Nasional mempunyai kelebihan 58 kerusi! Apakah Anwar Ibrahim dan pengikut-pengikutnya menganggap kalangan pemimpin Barisan Nasional hanya berpeluk tubuh dan berdiam diri sahaja melihat perilaku Anwar?

Maka kecewalah penyokong-penyokong bawahan Parti Keadilan dan PAS ini bila mendengar hujah-hujah saya ini. Begitu taksub, percaya dan besarnya harapan mereka terhadap Anwar. Saya kasihankan mereka, saya tidak kata Anwar tidak ada pengaruh, memang ada kalangan Umno dan pemimpin parti komponen lain yang menyertai Parti Keadilan dan Pakatan Rakyat selepas Pilihanraya Umum 8 Mac 2008, tetapi bukanlah yang berstatus Ahli Parlimen atau Ahli Dewan Undangan Negeri, yang ada hanyalah pemimpin-pemimpin Umno pencen, tidakpun pemimpin-pemimpin parti komponen Barisan Nasional yang lain yang sedang diserang penyakit buntu dan keliru, gagal mencari sebab mengapa parti-parti yang dipimpin mereka sebelum ini tiba-tiba ditolak rakyat sebegitu rupa, terperangkap di antara yang mereka anggap perjuangan dan survival kuasa.

Kenapa Anwar gagal? Anwar lupa rakyat, Anwar hanya mahukan sokongan dan undi mereka, perubahan itu rakyat, bukan Anwar, yang merobah itu rakyat, bukan Anwar, itu yang Anwar lupa. Anwar cuba meyakinkan rakyat yang dia mampu membuat perubahan (baca: perubahan susunan orang di pejabat-pejabat mewah di Putrajaya). Anwar lupa meyakinkan rakyat yang rakyatlah paling perlu membuat perubahan sebelum mahu melihat perubahan berlaku di mana-mana (baca: perubahan pendekatan politik, ekonomi, sosial, budaya, perubahan mentaliti, perubahan ideologi, perubahan kepercayaan kepada status quo, perubahan sikap dan cara bertindak). Garis dasar untuk ini perlu ada, lalu wujudlah keperluan segala macam jenis manifesto dan agenda. Tetapi oleh kerana kempen pengimejan Anwar sebagai dewa perubahan ini terlalu melampau dan dominan, maka dokumen-dokumen ini semakin lama menjadi semakin mengecil dan tidak diperhatikan serta tidak dianggap penting, rakyat pun akhirnya tidak dapat menangkap apakah idea perubahan itu dan bagaimana mereka harus berperanan…

Hasilnya, jadilah seperti yang kita dapat lihat selepas Pilihanraya Umum 8 Mac 2008, kegagalan Pakatan Rakyat yang saya namakan sebagai kegagalan yang mengecewakan, kenapa? Sebab kegagalan ini sedikit lagi boleh menjadi kejayaan, tetapi malangnya tidak berjaya. Di antara kegagalan dan kejayaan ini adalah titik keseimbangan graviti, Anwar telah salah menanda titik keseimbangan, kemudiannya berdiri pula di atas titik keseimbangan yang salah itu.


07 September 2008

PUTRAJAYA 916 : 16 SEPTEMBER PASTI BERLAKU...


'Apakah kamu mengira bahawa kamu akan dibiarkan (begitu sahaja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
( 9:16 )

Surah At-Taubah – Surah ke - 9 : Ayat 16

16 September atau 916 semakin hampir dan Ia PASTI BERLAKU. Selepas ini Dato Seri Anwar Ibrahim perlu melakukan satu lagi sumpah yang ditunggu-tunggu selama ini. Sumpah keramat kali ini akan menamatkan terus pemerintahan Barisan Nasional selama 50 tahun. Jika selama ini pelbagai pihak mendesak Dato Seri Anwar Ibrahim untuk melakukan sumpah. Tetapi sumpah selepas ini akan menyebabkan mega tsunami yang akan menenggelamkan kapal Titanic Barisan Nasional selaku regim parti pemerintah sekarang. Sumpah tersebut adalah sumpah taat setia di hadapan Yang DiPertuan Agong sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-6 yang baru.

Tarikh 16 September juga kelak akan menjadi titik terpenting dalam sejarah masa hadapan Malaysia. Harapan baru rakyat Malaysia terhadap sistem pemerintahan negara bakal melakar satu lembaran baru. Selepas bergelut dengan pelbagai kemelut ekonomi, rasuah, sistem kehakiman , sistem demokrasi dan sosial. Rakyat Malaysia secara keseluruhannya wajar bangkit semula untuk meletakkan negara pada kedudukan dan standart yang tinggi di mata dunia.

Semangat dan inspirasi baru perlu ditiupkan kepada seluruh warga Malaysia. Dengan harapan baru kebangkitan rakyat Malaysia selepas 51 tahun negara mencapai kemerdekaan. Suntikan semangat dengan halatuju dan agenda baru perubahan negara akan melonjakkan Malaysia berada ditahap global. Kita perlu memahami realiti semasa dengan perubahan dunia yang semakin pantas bergerak maju dan semakin bersifat global. Justeru tindakan dan fikiran juga menuntut standart yang tinggi dan bersifat global dan futuristik.

Malahan harapan selepas 16 September adalah untuk melihat Malaysia bangkit dalam menghadapi kemelut ekonomi dan sistem keadilan. Dunia juga mengharapkan khususnya negara-negara Islam agar Malaysia menjadi jurubicara dunia Islam dan negara-negara membangun dalam menangani persoalan ketidakadilan global yang semakin memisahkan dan melebarkan jurang pertembungan tamadun atau Clash of Civilization yang diungkapkan oleh Samuel Huntington dalam karya agungnya.

Kita juga mengharapkan sinar baru harapan Malaysia akan muncul pada fajar 16 September. Sinar ini yang akan menerangi seluruh zaman kegelapan Malaysia dalam aspek sistem keadilan,sosial, ekonomi dan pentadbiran negara. Sinar harapan baru rakyat Malaysia untuk kembali bangkit menjadi bangsa yang menyumbang kepada kepesatan dan ketamadunan dunia. Kita juga akan bangkit bukan sekadar untuk menyaingi prestasi ekonomi Singapura, Taiwan dan Korea Selatan. Tetapi juga kita bangkit untuk membangunkan ekonomi yang akan menjadi role model dunia dan ummah sejagat di masa hadapan.

Apa jua halangan dan rintangan yang cuba dilaksanakan oleh regim pemerintah masa kini untuk menidakkan berlakunya peralihan kerajaan 16 September. Realiti sebenarnya 16 September pasti akan berlaku juga. Kini bidak catur berada pada giliran Pakatan Rakyat untuk menggerakkannya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi percaturan ‘checkmate’ akan terus menamatkan permainan kotor regim pemerintah masa kini selama 50 tahun.

Kini seluruh dunia sedang memfokuskan kamera mereka ke arah Malaysia. Kerajaan Pakatan Rakyat 916 akan mengambil alih kerajaan persekutuan Malaysia. Kita mengharapkan proses peralihan tampuk pemerintahan negara akan berjalan lancar dan aman. Dunia juga sebenarnya ternanti-nanti satu peristiwa bersejarah yang akan mengubah landskap politik Malaysia pada masa hadapan. Kita juga wajar meraikan 16 September ini sebagai Kemerdekaan Malaysia Ke-2 yang bebas daripada sistem rasuah dan kezaliman. Kibarkan bendera Malaysia sebanyak yang mungkin tanda kemenangan kita dalam mendapatkan kemerdekaan yang sebenar yang kita bukan bebas daripada penjajahan fizikal tetapi kita bebas daripada penjajahan minda.

Kita merdeka daripada penjajahan minda untuk menjadikan Malaysia dan warganya mempunyai nilai maruah yang tinggi pada pandangan dunia. Bebas merdeka daripada penjajahan minda merupakan pembebasan yang cukup tinggi nilainya kerana dengan bebas daripada minda sahaja kita mampu bangkit membina negara menjadi sebuah negara madani yang bertamadun tinggi dan nilai akal budi murni yang terpuji.

Mengungkap sepotong ayat Al-Quran daripada Surah Al-Taubah yang merupakan surah ke 9 dan memetik pada ayat ke 16. Kita wajar memahami dan menghayati maksud ayat tersebut dengan mendalam yang membicarakan soal ujian keimanan dalam proses perjuangan yang akan dihadapkan dengan pelbagai ujian sebelum layak kita mengecap nikmat manis kejayaan tersebut.

Proses reformasi yang bermula 10 tahun lepas baru kini nampak hasilnya. Tetapi 16 September ini adalah proses permulaan dalam satu langkah panjang membawa negara ke arah era baru negara madani. Sempena meraikan 16 September ini di seru seluruh rakyat Malaysia tidak mengira bangsa dan agama menanamkan iltizam dan tekad baru untuk membawa Malaysia yang lebih gemilang di masa hadapan. 16 September adalah detik kebangkitan Malaysia menjadi warga negara yang lebih bermaruah. 16 September adalah Malaysia Baru untuk menjadi sebuah Negara Madani.

Semoga 16 September akan membawa Malaysia menjadi perintis kepada perjuangan menegakkan keadilan di peringkat global pula. 16 September bukan destinasi berhentinya perjuangan tetapi adalah sebuah perjalanan perjuangan yang panjang. Selamat Menyambut Kemerdekaan Malaysia Ke-2 pada 16 September. Semoga 16 September adalah detik permulaan sinar aura harapan baru Malaysia untuk melakar sejarah tamadun ummah sejagat di masa hadapan.

20 Ogos 2008

Arif shah graduan mana, SEBENARNYA?

Oleh: Jonbuobage

Dalam sibuk-sibuk kempen pilihan raya pematang pauh, pihak media massa (baca: ejen BN) telah menjaja kehebatan dan ketokohan calon BN, Arif Shah yang katanya sehebat Anwar Ibrahim, namun ada beberapa fakta yang diragui kebenarannya atau hanya pembohongan besar terhadap rakyat.

Rata-rata media menyatakan yang Arif merupakan graduan Diploma tanpa menyebut dari universiti/kolej mana dan ada yang menyebut yang dia dari Universiti Nanyang, Singapura. Namun dalam Utusan Malaysia telah menambah dalam profilnya yang Arif telah mendapat diploma kejuruteraan awam dari Graber International, California.

Dalam The Star pula menyebut yang beliau sedang menyambung pelajaran dalam kursus PhD di Edison University of Technology dalam pengajian luar kampus. tidak pula dinyatakan dalam bidang apa.

namun apa yang menariknya, jika dilakukan pencarian dalam enjin pencari internet, kita takkan jumpa kedua-dua institusi ini, Graber International mahupun Edison University of Technology. Gunalah Yahoo! atau Google, tidak akan ada satu pun jawapan yang mengatakan institusi ini wujud apatah lagi bertauliah!

dalam keghairahan memancing undi, tak perlulah sampai tahap ‘mengelirukan’ rakyat dengan cerita dongengan. rakyat sekarang bukan bodoh, dan tak rela diperbodohkan. kamu graduan mana sebenarnya Doktor Arif Shah .PhD?

04 Ogos 2008

Opah Pidah letak jawatan

Oleh: Mat Saman Kati

"Kamu tau, Mat. Opah Pidah dah merajuk benor..Sejak Bomoh Dolah jadi Ketua Kampung, dia nak cantas semua bidan-bidan yang tak ada tauliah. Bomoh Dolah ni kununnya nak ambik Bidan Kerajaan yang ada tauliah saja untuk kerja-kerja nak menyambut orang beranak ni."


Hari ni, pagi-pagi lagi aku dah hantar anak kesekolah, sebab dia nak pergi keKuantan. Ada jambori KRS dan dia dipilih mewakili sekolah. Pukul 6.45 pagi masih gelap dan dalam perjalanan balik, aku nampak Kak Lijah tercongok kat bus-stop dengan baju putih tudung merah.. Aku pun berhenti dan tanya Kak Lijah.

"Nak kemana subuh sepie ni, Yong?"

"Nak ke Kuala! Ada hal besor" jawab Kak Lijah.

"Ada orang beranak ke?" aku tanya.

"Bukan orang beranak, bidan nak letak jawatan !!!" kata Kak Lijah.

"Bidan mana?"

"Opah Pidah!!! "

"Pasai apa?"

"Panjang ceritanya. Kamu tolong hantor aku keKuala, boleh bersembang dalam kereta." Kak Lijah buat cadangan. Aku serba salah. Dah la nak bawak janda gelap-gelap ni. Aku pulak masih pakai kain pelikat, seluar dalam pun tak pakai. Kalau dah umur enam puluh, boleh juga bagi alasan dah tak kuat....Lantak lah.. Kalau orang cekup aku kat bus-stop subuh-subuh ni, lagi teruk.

"Masuk la..." aku pelawa Kak Lijah. Kak Lijah pun buka pintu kereta, masuk dan tutup pintu kereta kuat-kuat.

"Pelan la sikit..roboh pulak pintu kereta tu nanti..", aku bagi tau.

"A laaa... kereta pun dah buruk" celupar sungguh orang tudung merah ni.

"Kamu tau, Mat. Opah Pidah dah merajuk benor..Sejak Bomoh Dolah jadi Ketua Kampung, dia nak cantas semua bidan-bidan yang tak ada tauliah. Bomoh Dolah ni kununnya nak ambik Bidan Kerajaan yang ada tauliah saja untuk kerja-kerja nak menyambut orang beranak ni."

"Opah Pidah tak ada tauliah ke?" aku tanya.

"Dulu ada hospital panggil dia ambil periksa, tapi macam mana nak ambil periksa kalau nulis pun tak tau." jawab Kak Lijah.

"Habih... macam mana dia boleh jadi bidan?.

"Turun dari maknya. Mak Opah Pidah dulu bidan jugak, banyak membela. Bila mati, turun kat Opah Pidah"

Aku tak paham apa yang dicakap oleh Kak Lijah. "Bela apa?"

"Ish... hantu raya, pelesit, macam-macam. Tu pasai dia lawa semedang, muka sentiasa berseri, bibior sentiasa merah" Kak Lijah dah mula mengumpat.

"Kalau macam tu, nak letak jawatan pasai apa? Tak jadi bidan kerajaan pun, orang panggil dia jugak."

"Tu la pasainya...sapa nak bagi makan hantu raya..pelesit dia? Telor pun dah mahai. Pulut pun dah naik harga." balas Kak Lijah. "Bila dah ada bidan kerajaan, orang pun dah kurang panggil dia. Selama ni, ada jugak masuk duit pengkeras, sekarang ni nak ceghoko duit dari mana? Hantu pelesit dia nak makan jugak.Kalau tak makan, lama-lama nanti, dia makan tuan. Tak percaya kamu tengok le rupa Opah Pidah tu..kecut macam asam ko"

"Habih.. kalau dia letak jawatan, sapa nak ganti jadi bidan kat Kuala ni?"

"Bidan kerajaan tu la... aku nak nyebut nama dia pun susah sangat.. Apa nama?..Serizat?" Kak Lijah tanya balik.

"Bidan yang datang dari Tanjung tu ka? Baguih la...tapi aku bukan berapa kenai sangat. Kalau Kak Lijah tanya bomoh kuat, aku tau la.."

" Huuh.. orang jantan macam tu la.. dah tua pun gatai lagi." balas Kak Lijah.

"Misi yang selalu masuk kampung tu tak boleh jadi bidan ka?" aku tanya Kak Lijah.

"Sapa dia?" tanya Kak Lijah.

"Alaa. yang macam jantan tu... Zalina kalau tak silap." aku bagi tau.

" Ishhh... dia bukan Wanita!!!!" .....Kamu berhenti kat rumah Kak Ton tu, Mat" Kak Lijah minta aku berhenti kat rumah Ketua Wanita Cawangan Sayong.

"Tak kan nak mesyuarat kat rumah kot. Ngape tak buat kat Rest House?" aku tanya.

"Gini hari tak ada sape nak sponsor, Mat. Kena mesyuarat kat dapor je la."

02 Ogos 2008

Konspirasi Pak Lah

Oleh: Raja Petra

Rodwan adalah pegawai polis yang sama terlibat dalam konspirasi liwat 1998 terhadap Anwar. Rodwan terlibat sebagai orang yang mengambil contoh darah Anwar secara haram, kemudian, tiba-tiba saja keluar sebagai 'kesan' diatas tilam. Walaupun tilam itu di gunakan sebagai 'bukti', tapi hakim memerintahkan semua bukti itu dibuang dari rekod perbicaraan.


Repot polis ini telah dibuat pada 5.45 pm, 28 June 2008 oleh Saiful Bukhari a/l Azlan.

Saya, Mohd Saiful Bukhari b Azlan, ingin melaporkan bahawa saya telah diliwat oleh majikan saya. Perkara ini berlaku tanpa kerelaan saya. Kejadian terakhir berlaku 26/6/08 di Unit 1151, Kondominium Desa Damansara, Jln Setia Kasih, KL. Oleh itu, tujuan laporan ini dibuat untuk mendapat pembelaan dan keadilan keatas diri saya. Saya juga berasa bimbang dengan keselamatan diri dan keluarga saya jika perkara ini tersebar luas di khalayak ramai. Majikan saya Dato Seri Anwar Ibrahim - Ketua Umum PKR.

Pasai apa Saiful lambat sangat nak buat repot?. Jom kita tengok balik apa yang berlaku sebelum repot ini dibuat.

Pada 25 Jun 2008, Saiful berjumpa dengan SAC 11 Mohd Rodwan Mohd Yusof kat bilik 619, Concorde Hotel di Kuala Lumpur. Sebelum tu, Saiful dan Rodwan telah bercakap melalui telefon sebanyak 8 kali.

Sebenarnya, depa tak ingat berapa kali depa telefon. Depa cakap ja 8 kali, walaupun sebenarnya mungkin lebih dari tu. boleh jadi 10 atau 12 kali. tapi sapa yang nak kira? Yang penting, depa berhubung banyak kali sebelum berjumpa di bilik 619, Concorde Hotel- macam mana nak kata 'rahsia kalau Malaysia Today boleh tau?

Tapi kita kena ingat. Rodwan adalah pegawai polis yang sama terlibat dalam konspirasi liwat 1998 terhadap Anwar. Rodwan terlibat sebagai orang yang mengambil contoh darah Anwar secara haram, kemudian, tiba-tiba saja keluar sebagai 'kesan' diatas tilam. Walaupun tilam itu di gunakan sebagai 'bukti', tapi hakim memerintahkan semua bukti itu dibuang dari rekod perbicaraan.

bila depa rasakan tilam itu tidak dapat membantu, depa minta hakim buang tilam tu. Dan tiba-tiba saja, tilam tu pun ghaib dan tak pernah muncul dimahkamah walaupun sebelum itu, ia diangkut setiap hari, bagi seluruh dunia tengok.

Ini apa yang dikatakan oleh peguam Sivarasa tentang hal ini.

"Dalam perbicaraan tahun 1998-99 , Anwar mengalami bagaimana bukti DNA disalahgunakan. Kita ada SAC Rodwan, yang mengambil sampel DNA secara haram dari simpanan forensik. dalam perbicaraan, ketika saksi pendakwa di soalsiasat, terbongkar bahawa DNA yang diambil itu telah di letak keatas tilam yang mashyur itu.

Bila di tenang dengan fakta ini, pendakwa telah meminda pertuduhan dan memujuk hakim, Augustine Paul, untuk membuang keseluruhan bukti dNA daripada rekod, untuk menghalang peguam Anwar dari membalas."

Sebenarnya, banyak lagi 'bukti-bukti' yang dicipta terhadap Anwar untuk meyakinkan rakyat bahawa dia bersalah dalam kes liwat ini. Tunggu la... alaysia Today akan membingkar saksi-saksi ini dan menelanjangkan bukti-bukti ini untuk menunjuk kepada rakyat bahawa IGP Ular dan AG haprak, termasuk barua-barua mereka seperti Rodwan, cuba memerangkap Anwar.

So, Rodwan dan Saiful berjumpa tiga hari sebelum itu dan mereka berhubung sebanyak sekurang-kurangnya 8 kali melalui telefon. Walaubagaimanapun, tiada repot polis dibuat sehinggalah Saiful pergi ke 2 hospital, tiga hari kemudian. Mengapa berhubung sebanyak lapan kali melalui telefon dan berjumpa secara rahsia bersama Rodwan didalam bilik hotel, dan hanya membuat laporan polis selepas dua kali pergi hospital?

Jom kita tengok persitiwa sebelum itu.

1. Saiful dan Rodwan bercakap melalui telefon lebih dari lapan kali.
2. Pada 25.06.08, jam 2.30 petang, Saiful dan Rodwan berjumpa dibilik 619, Concorde hotel di Kuala Lumpur.
3. Pada 26 Jun 2008, pungkok Saiful dikatakan telah di'liwat' oleh Anwar.
4. Pada 28 Jun 2008, Saiful pergi kePusat Rawatan Islam (Pusrawi) untuk mengadu dia tak boleh berak. Dia bagi tau kat doktor, dia tak boleh berak sebab ada orang 'sodok' pungkok dia.
sepatutnya, kalau pungkok dia kena sodok, mesti la lagi senang nak berak.
5. Doktor pun jenguk kat pungkok Saiful dan mendapati pungkoknya masih 'dara', macam pungkok Raja Petra!
6. Doktor pun bagi tau, kalau nak buat repot polis, lebih baik pergi ke hospital kerajaan.
7. Macam mana pun, Saiful tak pergi jumpa doktor kat hospital sebaliknya pergi ke pondok polis kat hospital tu untuk buat repot.Sumber dari HKL bagi tau, Tak ada pun pemeriksaan perubatan dibuat, tapi polis kata ada! Kalau kita tengok, repot polis itu dibuat dalam masa sejam atau dua jam selepas Saiful meninggalkan hospital. Nampak macam hospital bercakap benar dan polis berbohong.

Keba ingat, Saiful berjumpa polis SEBELUM kejadian liwat ini berlaku. Kejadian liwat tu dikatakan berlaku pada 26 Jun manakala Saiful berjumpa polis pada 25 Jun. Itu pun, dia tunggu sampai 28 jun, baru dia pergi kehospital dan membuat laporan polis. Semua ini adalah kemuncak kepada pertemuan rahsia didalam bilik hotel dan selepas perbualan telefon dibuat.

Kalau Saiful diliwat, tak kan dia tak bagi tau kat Rodwan dalam pertemuan rahsia pada 25 Jun? Dan pasai apa depa jumpa secara rahsia dalam hotel pada 25 Jun? Bukan ka lebih baik kalau depa jumpa kat balai polis? Kalau hangpa la, hangpa nak jumpa polis SEBELUM diliwat atau SELEPAS diliwat?

Sapa yang berfikiran waras mahu percaya cerita ni? Ok, aku kata waras. Pak Lah mahu polis mendakwa Anwar walaupun Kabinet menentang. Kabinet merasakan tidak ada bukti untuk mendakwa Anwar, malah nak menuduh dia pun tak boleh. Tapi Pak Lah mahu polis meneruskan kes ini dan mendakwa Anwar. Aku kata orang yang berfikiran waras, tapi Pak Lah bukan lah orang yang waras.

Pasai apa Pak Lah teringin sangat nak dakwa Anwar? Senang ja. sebab kalau kes ini diteruskan, najib pun terlibat sama. Polis telah merakamkan kenyataan Najib dan Rosmah dibawah seksyen 112. Jadi, Najib dan Rosmah mesti menjadi saksi semasa perbicaraan. Bila itu berlaku, semuanya akan akan menjadi senang, macam taik keluar dari pungkok selepas diliwat.

Semasa perbicaraan yang akan dilakukan terhadap Anwar, rakyat malaysia akan diberitahu tentang hubungan diantara Saiful dengan Mumtaz Jaafar. Rakyat Malaysia juga akan diberitahu siapa dia Mumtaz Jaafar dan apakah hunbungan dia dengan Rosmah. Kemudian, rakyat Malaysia akan diberitahu hubungan diantara Khairul Anas, Pembantu Khas Najib, dengan Saiful. - dan kisah-kisah mereka semasa bersekolah. Ho.ho.ho.. semua keseronokan dan skandal seks akan terbongkar semasa perbicaraan, mungkin Astro pun tak laku.

Kes liwat Anwar ini akan memudaratkan Najib, lebih teruk dari Anwar. Dipenghujungnya, mahkamah akan mengatakan tidak cukup bukti untuk mensabitkan kesalah terhadap Anwar.Mungkin lima atau enam tahun, tapi akhirnya Anwar akan bebas. Walaubagaimanapun, semasa lima enam tahun ini, Anwar terpaksa merengkok didalam penjara kerana tidak dibenarkan jamin. Ya...Anwar akan bebas tapi selepas merengkok dalam penjara tanpa jamin.

Najib pula tak boleh hidup senang. Anwar akan bertanding di Permatang Pauh dan mesti boleh menang. Mungkin majoritinya lebih besar dari Wan Azizah. Dan ini terjadi kerana Anwar akan bertanding dari dalam Penjara Sungai buloh dan semua orang tau, dia tak sepatutnya tinggal didalam penjara, jadi dia akan mendapat lebih banyak undi simpati.

Sementara itu, pemilihan UMNO diperingkat bahagian akan diadakan serentak dengan pilihanraya kecil Permatang Pauh. Dan Tengku razaleigh akan mendapat lebih dari 60 pencalunan, cukup untuk bertandin Presiden Umno. Nak dapat pencalunan ni yang susah, tapi kalau dia dapat pencalunan, dia akan dapat undi. Yang tu senang.

Sebaik saja Tengku razaleigh menang jawatan Presiden Umno dan menjadi Perdana Menteri, dia akan meminta AG dan polis supaya menghentikan semua ini. Kalau ada kes terhadap Anwar, campakkan dia kepenjara. Kalau tidak, hentikan pembaziran wang rakyat ini dan tutup kes. Itu yang akan dilakukan oleh tengku razaleigh. Dan dia akan disanjung dan Anwar akan kembali dengan kekuatan yang lebih kuat daripada sebelum dia dihantar kepenjara. Tengku razaleigh kemudian akan berpakat dengan pembangkang dan mencadangkan supaya dihentikan semua permainan politik ini supaya semua boleh duduk semeja dan bekerja untuk mentadbir negara.

Ekonomi didalam keadaan teruk. Negara ditadbir secara autopilot. Tiada siapa yang mentadbir negara ataupun bertanggungjawab. keseluruhan masa dihabiskan untuk menjatuhkan orang lain. Untuk kesejahteraan negara, semua ini mesti dihentikan dan Tengku Razaleigh akan menghentikan semua ini.

Orang-orang bukan Melayu gembira dengan Tengku Raaleigh dipuncak kuasa. sekarang ni, mereka tidak gembira, bukan saja denga ekonomi malah tidak gembira denganmuzakarah Pas-Umno yang gagal. umno cuba memikat Pas dan cuba untuk bergabung dengan Umno. Malah Umno bersedia untuk menyatukan kedu-dua parti ini menjadi satu dan membenarkan undang-undang Islam dilaksanakan dinegara ini. Bukan saja Umno bersedia memberikan jawatan Menteri besar kepada Pas, malah jawatan Timbalan Perdana Menteri. Pak Lah menyatakan ini secara bertulis.

Tapi tunggu dulu. Kalau Pas diberikan jawatan Timbalan Perdana Menteri, kat mana nak bubuh Najib? Dan kalau Najib tidak lagi menjadi Timbalan Perdana Menteri, macam mana dia nak jadi Perdana Menteri. Dan Pak Lah menawarkan ini secara bertulis supaya pemimpin Pas dapat mengemukakannya dalam mesyuarat Jawatankuasa Pas Pusat hari Khamis lepas.

Buknan ka itu sebanya mengapa Pemuda Pas kata, "Pas tidak berminat untuk bergabung dengan Umno, walaupun ditawarkan jawatan Timbalan Perdana Menteri!". Adakah sebab memang benar Pak Lah menawarkan mereka jawatan itu, atau hanya hipotesis Pemuda Pas?

Itulah caranya untuk membunuh dua ekor burung dengan satu batu. Secara serentak Najib dan Anwar dapat dikawal, dan Pak Lah tak perlu risau dengan dua orang ni. Boleh jadi betul. Boleh jadi tidak. Ada satu lagi isu sama ada Tengku razaleigh akan mendapat 60 pencalunan atau tidak dan sama ada Anwar menang diPermatang Pauh atau tidak.Kalau satu atau kedua-duanya berlaku, ia akan mengubah keseluruhan senario politik negara.Apa pun yang berlaku, satu perkara cukup jelas. Najib akan ditendang keluar, tak kira macam mana pun. Ini boleh dijangkakan tapi siapa yang berkuasa selepas itu, menjadi tanda tanya.

Ini bukan tentang kes Anwar diperangkap dengan tuduhan liwat palsu atau tidak. Ia berkenaan Najib yang diheret kedalam kancah ini dan didakwa sebagai dalang dalam konspirasi untuk memerangkap Anwar.Sudah pasti, Anwar akan merengkok dipenjara lima atau enam tahun, kemudian diisytihar tidak bersalah. Tapi Najib akan dipaksa bersara untuk kebaikannya. Ini bukan tentang Anwar tapi tentang Najib, dan Najib masih tidak menyedarinya... Kesiaaaan.

(Entri ini adalah terjemahan Mat Saman Kati daripada artikel asal: Killing two birds with one stone , oleh Raja Petra)

29 Julai 2008

Konspirasi liwat dan kerjasama PAS-UMNO

Oleh Raja Petra

Bapa Saiful ialah seorang daripada Ahli Jawatankuasa Perpaduan Melayu yang merancang perundingan diantara Pas-Umno. Seorang lagi ialah Pengarah Urusan Sapura, Rameli Musa, seorang kroni Anwar. Nampaknya, Anwar sendiri tidak sedar bahawa sahabatnya sendiri merancang menjatuhkan beliau.


Perundingan perpaduan Melayu diantara Pas-Umno bukanlah sesuatu yang berlaku tanpa sengaja. Ianya telah dirancang dengan begitu teliti dengan matlamat untuk mengembalikan kuasa politik orang Melayu dan memastikan 'pendatang' bukan Melayu tidak akan mendominasi kuasa politik Malaysia. Sebahagian daripada perancangan ini ialah memastikan bahawa Pas akan kehilangan kepercayaan terhadap Anwar, dan kemuncak ketidakpercayaan ini ialah Pas akan merasakan bahawa masa depan Pas adalah bersama Barisan Nasional, bukan dengan Anwar.

Anwar telah pun dianggap sebagai pengkhianat kepada bangsa Melayu yang memperjuangkan Ketuanan Rakyat, bukan Ketuanan Melayu. Dan Anwar juga menentang Dasar Ekonomi Baru dan menggantikan dengan dasar yang lebih mementingkan kesamaan hak. dan Anwar juga dianggap sebagai ejen Amerika. Oleh itu, sebagai pengkhianat bangsa, Anwar mesti dihapuskan demi kebaikan bangsa Melayu.

Pernahkah terfikir, mengapa bapa saudara Saiful yang memanggil sidang akhbar untuk meminta Anwar bersumpah bahawa Anwar tidak pernah meliwat Saiful? Mengapa tidak bapanya? Sedangkan surat yang dibaca oleh peguam itu dikatakan ditulis oleh bapa Saiful. Satu lagi, Najib juga bersumpah dihadapan 900 ahli-ahli Umno mengatakan dia tidak pernah berjumpa ataupun mengenali Altantuya. Adakah rakyat percaya bahawa Najib bercakap benar bila dia bersumpah? Adakah sumpahnya itu mampu mengubah persepsi rakyat?

Sebenarnya, Saiful tidak begitu mengenali bapanya. ibu bapanya bercerai ketika Saiful masih kecil, dan ibunya berkahwin lagi. Bila ibunya meninggal dunia, bapa tirinya pula menghilangkan diri dan Saiful seterusnya dijaga oleh bapa saudaranya. Dan satu perkara penting didalam keseluruhan episod ini ialah 'ibu angkat' Saiful ialah Mumtaz Jaafar, yang merupakan proksi Rosmah Mansor dalam urusan perniagaanya.

Apakah ini dapat menerangkan mengapa Najib bersetuju berjumpa Saiful? Ramai yang tidak dapat memahami bagaimana seorang timbalan Perdana Menteri yang begitu penting dan sibuk , mahu membazir masa bertemu dengan seorang pelajar tercicir seperti Saiful. Ini adalah kerana Saiful adalah 'anak angkat' kepada Mumtaz Jaafar. Itu sebab Najib berjumpa dengannya.

Melihat kepada perawakan bapa saudara Saiful, kita boleh memahami mengapa lelaki ini istimewa. Apakah doktor menemui contoh air mani bapa saudaranya didubur Saiful, dan mungkin itu sebabnya mengapa polis tidak mendakwa Anwar? mungkin ini dapat menjelaskan, mengapa polis membebaskan Anwar selepas penahanan yang dramatik sehari sebelum itu.

Bapa Saiful ialah seorang daripada Ahli Jawatankuasa Perpaduan Melayu yang merancang perundingan diantara Pas-Umno. Seorang lagi ialah Pengarah Urusan Sapura, Rameli Musa, seorang kroni Anwar. Nampaknya, Anwar sendiri tidak sedar bahawa sahabatnya sendiri merancang menjatuhkan beliau. Jawatankuasa ini diketuai oleh seseorang dari Perisik tentera yang saya tidak akan beritahu buat masa ini.

Ya.. Perisik Tentera lagi! Sekarang anda boleh lihat mengapa Perisik Tentera membocorkan maklumat tentang laporan rasmi mengenai pembabitan Rosmah Mansor didalam pempunuhan Altantuya. Tujuannnya ialah untuk menjatuhkan Najib. Dan orang-orang sama ini juga terlibat didalam muzakarah Pas-Umno, yang mana diantaranya melibatkan orang-orang seperti bapa Saiful dan rakan baik Anwar, Rameli Musa.

Baru-baru ini, bapa Saiful, yang telah meninggalkan anaknya sejak kecil, kembali kedalam hidupnya. Mengapa, setelah lebih 20 tahun lalu, tiba-tiba bapa ini kembali muncul menemui anaknya? Senang saja. Dia mahu menghantar anaknya menemui Najib. Najib merasakan dia menghantar saiful kepada Anwar untuk dijadikan sebagai ejen. Apa yang najib tidak tahu ialah, budak ini dihantar untuk mengenakan Najib.

Itulah sebabnya mengapa bapa Saiful enggan menunjukkan mukanya dikhalayak ramai, terutamanya didepan kamera. Sekiranya wajahnya keluar dikaca TV, maka sudah pasti ramai yang mengenalinya. Dia sebenarnya tidak mempunyai pekerjaan tetap.Kerjanya ialah menjadi broker. Kalau anda mahukan sesuatu, dia boleh lakukan. Kalau mahukan kontrak kerajaan, kalau mahu memerangkap seseorang, kalau nak jumpa mana-mana menteri ataupun Timbalan Perdana Menteri, panggil saja bapa Saiful, dan dia akan melakukannya.

Kerjanya senang. cipta satu kes liwat terhadap Anwar. Ini akan menyebabkan Pas menjadi risau dan mereka akan berfikir dua kali tentang Anwar dan Pakatan Rakyat. Panggil Pas dan Umno duduk bersama dan bercakap tentang perpaduan Melayu. Biar Pas nampak bahawa masa depan Pas ialah bersama Umno dan bukan dengan PKR, yang mana akan dijatuhkan dengan kes liwat terhadap Anwar ini. Beritahu kepada Pas bahawa Umno bersetuju dengan pelaksanaan undang-undang Islam dinegeri-negeri yang dikuasai oleh mereka dan Umno akan bersetuju bahawa menteri besar akan diberikan kepada Pas.

Para perancang muzakarah Pas-Umno tentang perpaduan melayu ini juga sedar bahawa menawarkan jawatan Menteri besar kepada Pas dan pelaksanaan undang-undang Islam , masih belum cukup. Mereka juga perlu memusnahkan kredibiliti Anwar untuk membuktikan kepada Pas bahawa masa depan Pas terletak bersama Umno dan bukan dengan PKR. Tidak menghairankan, jawatankuasa muzakarah Umno-Pas adalah orang yang sama dengan 'jawatankuas memusnahkan Anwar' dan bapa Saiful, bersama dengan perisik tentera adalah pelakon penting dalam keseluruhan drama ini.


(Artikel asal: The Malay Unity Sodomy Conspiracy oleh Raja Petra terjemahan bebas oleh Mat Saman Kati)



Ber-zakar-lah: Ketuanan Melayu v Ketuanan Rakyat

Oleh: Hishamudin Rais

Apakah penafian awal dari juru dongeng itu satu pembohongan? Pasti ada nas dan sanad yang bolih mereka cari untuk menunjukkan ada bohong kecil, bohong besar, bohong wajib, bohong sunat dan bohong politik. Dalam kes ini, mengikut nas saya bohong ini adalah bohong yang bohong, tidak besar dan tidak kecil. Bohong adalah bohong.


Hari ini telah terbukti semakin ramai rakyat menolak konsep Ketuanan Melayu tetapi tunggul-tunggulnya masih ada. Pelik tetapi benar tunggul-tunggul baru Ketuanan Melayu telah muncul kebelakangan ini. Kali ini bukan datang dari batang tubuh gerombolan United Malays National Organisation - tetapi dari gerombolan kecil – satu kumpulan yang selalu bertempik-tempik mengajukan dasar agama yang tidak memandang kaum, bangsa dan ras. Sewajibnya agama tidak betuankan Melayu tetap bertuankan Tuhan. Inilah yang menjadi pelik tetapi benar.

Gerombolan kecil yang selalu bertempik-tempik di atas dasar agama ini telah berkhutubah ke hulu ke hilir mengatakan agama yang mereka anuti adalah sejagat. Tup tup – apabila dicakar kulitnya maka keluarlah agama barunya yang bernama Ketuanan Melayu. Maka keluarlah retorik ajaran agama ini – untuk perpaduan bangsa dan khutubah-khutubah untuk menjaga keMelayuan dari terhakis. Inilah menjadi lebih pelik dan hampir tidak dipercayai kerana yang yang mejadi juru dongengnya ialah seorang yang amat keras pegangan agamanya.Sehinggakan sanggup pasa satu ketika dahulu ‘mengkafirunkan’ sesiapa sahaja yang tidak berpayung di bawah ketiaknya. Pelik tetapi benar.

Pelik ini bertambah pelik kerana pada awalnya juru dongeng gerombolan kecil ini telah menafikan yang mereka sedang berbincang untuk membuat satu ‘geng baru’ dengan gerombolan United Malays National Organisation. Manafikan sahaja tidak cukup. Juru dongeng gerombolan kecil ini ingin menyaman sesiapa yang cuba ‘menuduh’ mereka sedang bersubahat dengan gerombolan United Malays National Organisation. Hebat. Memang hebat. Malah juru dongeng ini menanggap semua cerita-cerita berzakar ini adalah ‘al-fitnah wal fitnah’.

Wah wah bukan main hebat kenyataan juru dongeng ini. Tup tup bila kain lunginya terbarai kelihatan seluar dalamnya koyak lagi masam lagi haprak. Ternyata apa yang dianggap ‘fitnah’ itu ialah benar – tidak lain dan tidak bukan ialah benar semata-mata. Ke mana hendak disurukkan seluar dalam yang koyak itu? Hanya mereka sahajalah yang dapat mencari sanad dan nas nya. Ini kerana dalam hal mencari-cari sanad dan nas ini mereka memiliki ketrampilan.

Apakah penafian awal dari juru dongeng itu satu pembohongan? Pasti ada nas dan sanad yang bolih mereka cari untuk menunjukkan ada bohong kecil, bohong besar, bohong wajib, bohong sunat dan bohong politik. Dalam kes ini, mengikut nas saya bohong ini adalah bohong yang bohong, tidak besar dan tidak kecil. Bohong adalah bohong.

Siakap senohong
Gelama ikan duri
Pandai cakap bohong
Bolih jadi menteri.


Kalau bukan bohong kenapa pada awalnya ada keinginan untuk menyaman tetapi tidak jadi? Pelik tetapi benar.

Terbukti tunggul-tunggul Ketuanan Mekayu ini masih bersepah-sepah lagi. Mereka datang dalam pelbagai bentuk. Penjaja utama yang menelurkan konsep Ketuanan Melayu ini ialah gerombolan United Malays National Organisation. Gerombolan ini telah lebih 50 tahun menjadi tuan. Hasil darinya, mereka hidup bersenang lenang merampok hasil negara untuk kroni dan suku sakat. Jadi kita tidak hairan jika mereka terus ingin menjadi tunggul – pergi tersepak pulang terlanggar – untuk mempertahankan Ketuanan Melayu.

Yang menjadi pelik tetapi benar ini ialah munculnya tunggul-tunggul baru yang hendak menumpang semangkuk ? Ini menjadi pelik.

Di samping ini ada juga macha-macha dan kumpulan-kumpulan kecil yang turut sama menyokong apa yang mereka tafsirkan sebagai – mu – zakar - rah. Macha-macha dan kumpulan ini mengangkat-angkat tangan dan kaki menyokong muzakar ini. Sebenarnya mereka ini telah mendapat serpihan ekonomi dari gerombolan United Malays National Organisation. Atau mereka diwujudkan sebagai anak syarikat gerombolan United Malays National Organisation. Ada juga diantara kumpulan-kumpulan kecil ini yang memakai jubah kumpulan belia hijau yang berjenamakan agama. Kumpulan dan macha-macha kumpulan belia hijau ini tidak seharusnya menghairankan kita semua. Ini perjuangan macha untuk cari makan.

Untuk kita semua memahami apa yang telah di muzakarkan dan apa yang telah di zakarahkan kita wajib memahami politik hari ini. Gerombolan United Malays National Organisation sedang nazak. Dari luar rakyat telah menolak mereka. Dari dalaman mereka sedang beramuk sesama sendiri untuk merebut ghanimah – harta rompakan perang. Inilah yang menjadi latar timbulnya muzakar dan zakarrah.

Gerombolan kecil yang muncul menjadi tunggul baru Ketuanan Melayu ini sebenarnya bukan orang jahat walau pun mereka membuat kerja-kerja jahat. Ada diantara mereka orang baik. Ada yang memiliki latar belakang agama yang baik. Tetapi baik sahaja tidak mencukupi dalam politik hari ini. Mereka ini gagal memahami apa makna politik. Mereka juga tidak memahami ekonomi sebagai asas politik. Mereka tidak memahami dinamika ekonomi kapitalis yang tidak memiliki agama dan tidak memiliki bangsa.

Ekonomi kapitalis bertuhankan keuntungan maksima. Cita-cita ekonomi kapitalis ialah untuk membolot semua punca-punca ekonomi. Punca ekonomi ialah bahan mentah, tanah dan tenaga buruh. Tidak wujud ketuanan Melayu atau ketuanan Cina atau ketuanan Melanau dalam sistem ekonomi kapitalis. Justeru, Pepsi Cola yang dijual di negara Arab itu adalah sama sahaja dengan yang dijual di Amerika walau pun dalam ejaan Jawi. Tujuan nya sama - untuk mencari untung.

Jika masih ada lagi tunggul-tunggul yang menjadi pengikut mazhab Ketuanan Melayu ini maka sahih yang mereka tidak memahami struktur sistem ekonomi kapitalis yang wujud dalam negara kita ini.

Ketuanan Melayu ini adalah satu konsep bayangan, satu ajenda politik yang digunakan olih gerombolan United Malays National Organisation untuk mencari sokongan orang Melayu. Jika ada Tuan maka pasti akan ada Hamba Abdi. Ketuanan Melayu ertinya akan ada yang menjadi hamba abdi kepada Melayu. Tidak mungkin orang Cina atau India, Kadazan atau sesiapa sahaja hendak menjadi hamba kepada Melayu. Malah orang Melayu sendiri pun tidak mahu menjadi hamba kepada sesiapa pun.

Justeru, lawan terhadap Ketuanan Melayu ialah Ketuanan Rakyat - politik, pemikiran, falsafah baru yang telah dicadangkan oleh Pakatan Rakyat. Ketuanan Rakyat ini bemakna kita warga di negara ini semua adalah sama tetapi tidak serupa. Kita sama sederajat walau pun kita tidak serupa agama, budaya, bahasa ibunda. Inilah falsafah yang diajukan melalui konsep Ketuanan Rakyat. Ketuanan Rakyat akan mementingkan rakyat dahulu bukan mementingkan keuntungan maksima. Rakyat itu iah kita semua – bukan orang Melayu sahaja.

Kenapakah bagitu susah hendak difahami konsep dan falsafah Ketuanan Rakyat ini? Apa masalah untuk memahaminya? Ketuanan Rakyat ini selari dengan konsep semua agama; kecuali jika ada agama yang mengakui agama mereka mengatasi yang lain, atau agama mereka sahaja yang betul. Justeru Ketuanan Rakyat mengkukuhkan nilai baik sangka antara sesama manusia. Kitab-kitab suci, ajaran-ajaran nabi dan ahli-ahli falsafah semuanya mengajukan kesaksamaan antara manusia dengan manusia tanpa mengira bangsa atau agama.

Untuk tunggul-tunggul baru yang cuba bangun dengan Ketuanan Melayu ini rasa saya mereka harus menilai kembali asas kefahaman politik mereka. Mereka wajib melihat arus politik 2008 dimana rakyat keseluruhan telah menolak konsep dan propaganda Ketuanan Melayu dari gerombolan United Malays National Organisation.

Sesiapa pun bolih bebas untuk menjadi tunggul. Yang hendak bermuzakar ke arah mana pun biarkan mereka bermuzakar. Yang hendak mengelabah biarkan mengelabah. Politik baru Ketuanan Rakyat tetap akan akan muncul kerana ini hukum sejarah. Seperti kata datuk nenek moyang kita – pergi tersepak pulang terlanggar - seratus jong masuk anjing tetap bercawat ekor.

Muqabalah @ Muzakarah: Kenapa PAS Sahaja Yang Terlarang?

Oleh: Zukri Aksah

Tidakkah semua itu namanya muqabalah, tidakkah sebahagiannya melibatkan muzakarah? Walaupun ada dari insiden di atas yang terus kelam sampai sekarang, nampaknya sama ada Saudara Anwar, Wan Azizah mahupun Saifuddin Nasution tetap terus teguh dan kekal bersama Parti Keadilan Rakyat khususnya dan Pakatan Rakyat amnya.


Lama dahulu sebelum Saudara Anwar bebas, Wan Azizah ada bertemu Pak Lah, Saifuddin Nasution juga ada bertemu Pak Lah, selain dari yang dinyatakan kepada umum bahawa pertemuan itu pada ketika itu adalah untuk memohon jasa baik Pak Lah bagi membenarkan Saudara Anwar ke luar negara berubat, buah-butir yang selebihnya tidak pernah diketahui penyokong terbanyak, dengar ceritanya Wan Azizah memanggil Pak Lah dengan panggilan ‘Uncle.’ Saudara Anwar juga selepas bebas ada berjumpa Pak Lah ketika rumah terbuka Hari Rayanya, selain kenyataan umum bahawa pertemuan itu semata-mata adalah untuk merakamkan ucapan terima kasih Saudara Anwar kepada Pak Lah kerana tidak mencampuri urusan penghakiman kesnya, yang lain-lainnya juga tidak pernah diketahui oleh penyokong terbanyak. Kita juga tidak pernah lupa bahawa Saudara Khairy Jamaluddin ada bertemu Saudara Anwar selepas bebasnya, selain alasan menguruskan passport, perbincangan lain antara mereka tidak pernah pula cuba dikorek oleh orang-ramai.

Tidakkah semua itu namanya muqabalah, tidakkah sebahagiannya melibatkan muzakarah? Walaupun ada dari insiden di atas yang terus kelam sampai sekarang, nampaknya sama ada Saudara Anwar, Wan Azizah mahupun Saifuddin Nasution tetap terus teguh dan kekal bersama Parti Keadilan Rakyat khususnya dan Pakatan Rakyat amnya.

Tetapi mengapa ia harus menjadi dilema, mencetuskan polemik bilamana muqabalah atau muzakarah sebegini, iaitu pertemuan dengan Pak Lah selaku Pengerusi BN dan Presiden Umno, melibatkan pimpinan PAS? Meyakini seratus peratus tindakan Saudara Anwar, Wan Azizah dan Saifuddin Nasution tetapi mempersoalkan pula tindakan beberapa pimpinan PAS, samalah seperti kita mengatakan kita yakin akan kekuatan jiwa dan pendirian Saudara Anwar, Wan Azizah serta Saifuddin Nasution tetapi ragui kekuatan jiwa dan pendirian pimpinan PAS, kita letakkan jiwa pimpinan PAS di tahap lemah dan lembik, kita andaikan pendirian pimpinan PAS adalah rapuh dan mudah disogok. Betapa berdosanya kita jika ini tersebar menjadi fitnah, apatah lagi mereka ini adalah pimpinan jemaah Islam.

Ya, saya tahu wujud beberapa asas terhadap dilema dan polemik ini. Pertamanya adalah kerana kesilapan lampau yang dibimbangi terulang, kedua kerana ini berlaku pasca 8 Mac 2008, selepas runtuhnya kerajaan Umno dan BN di lima buah negeri, hilangnya kerusi-kerusi strategik Umno dan BN di Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, hilangnya dua pertiga majoriti BN di Parlimen, PAS dibimbangi akan dipujuk lagi oleh BN untuk memasuki BN bagi memperkuatkan kembali BN, selepas BN kembali kuat, PAS akan ditendang seperti sampah…

Soalnya kenapa itu yang tergambar di kepala kita bila pimpinan PAS berjumpa Pak Lah? Gambaran PAS akan masuk BN, PAS kena tipu dek Umno, PAS dipermainkan Umno dan sebagainya… Benar, pihak Umno seperti yang diakui Khir Toyo telah menawarkan apa yang dibimbangi itu, PAS keluar dari Pakatan Rakyat dan menubuhkan kerajaan Negeri Selangor bersama Umno, tetapi itu politik Umno, biarlah dia dengan caranya, tiada apa-apa yang luak pun. Apakah kita ada terdengar PAS hadir dalam muqabalah atau muzakarah itu dengan membawa agenda yang sama? Menawarkan diri untuk membubarkan Pakatan Rakyat dan bercium mulut dengan Umno? Tidak ada bukan! Yang terbukti, sekolah agama rakyat di Kelantan akan mendapat bantuan kerajaan persekutuan, akhbar Harakah mendapat kembali permit dua kali seminggunya, tinggal lagi masalah tahanan ISA yang belum dapat diselesaikan. Jelas bahawa pimpinan PAS hari mempunyai kebijakan politik yang tinggi, sebab ada sesetengah tuntutan perjuangan yang boleh diselesaikan di meja rundingan, bukan di jalanraya atau dalam pilihanraya!

Sejarah perjuangan Islam yang panjang membuktikan bahawa muqabalah atau muzakarah dengan pihak lawan boleh diadakan selagi ia boleh memberi manfaat kepada Islam dan ummah sama ada secara tersirat atau tersurat, sama ada untuk jangka masa pendek atau jangka masa panjang. Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah sudah sering diceritakan orang, kaedah dakwah Assyeikh Syahid Al Imam Hassan Al-Banna juga penting untuk dijadikan rujukan dalam situasi sebegini, bagaimana beliau masuk ke kelab malam untuk berdakwah, sehingga akhirnya kelab malam itu bertukar menjadi sebuah surau! Kalau berjumpa pemilik kelab malampun boleh membuahkan hasil dalam dakwah, maka bukanlah sesuatu yang terlarang untuk PAS berjumpa dengan pimpinan Umno.

Kepada sahabat-sahabat ahli PAS sekalian, kita sudah berbai’ah dengan PAS, maka eloklah kita menuruti rukun bai’ah sepertimana yang juga diperturunkan oleh Assyeikh Syahid Al Imam Hassan Al-Banna lewat Risalah Ta’limnya, iaitu Faham, Ikhlas, Amal, Jihad, Berkorban (Tadhiyah), Taat, Thabat, Tajarrud, Bersaudara (Ukhuwwah) dan Thiqah.

Oh ya, ada pesanan untuk Saudara Karpal Singh, seeloknya saudara menekuni terlebih dahulu lapis ayat Bahasa Melayu sebelum mengkritik apa yang diperkatakan oleh Tuan Guru Nik Aziz, nanti kalau ada orang kata saudara tak faham bahasa saudara marah.

28 Julai 2008

Ini satu lagi konspirasi

Oleh Raja Petra

Dr. Mohamed Osman memeriksa Saiful tetapi mendapati tiada bukti bahawa dia diliwat, sama ada oleh Anwar Ibrahim ataupun sesiapa saja. Laporan doktor (boleh dilihat dibawah) mengatakan TIADA kesan luka pada kulit, TIADA pendarahan, TIADA kesan-kesan nanah dsb - secara asasnya bermakna tidak mungkin dia mengalami kesakitan diduburnya, seperti yang didakwa.



Pada 21 Julai, aku tulis tentang Konspirasi AG dan IGP. Dalam posting tu, aku ada tulis yang ni.
Hangpa tau, depa minta seorang doktor dari sebuah hospital untuk melakukan pemeriksaan terhadap Saiful. Doktor tu pun buat dan dalam laporannya, dia kata tidak ada bukti Anwar melakukan liwat terhadap anak muda ini. Polis kemudian menahan doktor ini selama tiga hari. Walaupun polis cuba memaksa doktor ini untuk menukar laporannya untuk membabitkan Anwar, doktor tersebut enggan melakukannya.

Sehingga hari ini, doktor tersebut tetap dengan pendiriannya mengatakan tidak ada bukti terhadap Anwar. Dia tahu dia terpaksa membayar harganya tapi dia tidak peduli. Dia tidak akan menukar laporannya dan mengatakan Anwar meliwat saiful, walau apapun terjadi kepadanya. Kecewa dengan ini, polis terpaksa membebaskan Anwar dengan jaminan polis. Doktor tersebut enggan menukar laporannya dan Anwar enggan memberikan contoh DNA nya.

Sebenarnya, doktor tersebut ialah Dr. Mohamed Osman Abdul Hamid dari Hospital Pusrawi dan dia bersama seluruh anggota keluarganya telah bersembunyi kerana polis sedang mencari mereka dan mahukan doktor ini mengubah laporan perubatan yang dibuatnya.

Pada 2.00 petang, 28 June 2008, mohd. Saiful Bukhari Bin Azlan telah pergi menemui Dr. Mohamed Osman dan mengadu tentang kesakitan dibahagian dubur yang dialaminya. Saiful memberitahu doktor tersebut bahawa dia di "perkosa' oleh seorang yang sangat penting - maknanya, Anwar Ibrahim.

Dr. Mohamed Osman memeriksa Saiful tetapi mendapati tiada bukti bahawa dia diliwat, sama ada oleh Anwar Ibrahim ataupun sesiapa saja. Laporan doktor (boleh dilihat dibawah) mengatakan TIADA kesan luka pada kulit, TIADA pendarahan, TIADA kesan-kesan nanah dsb - secara asasnya bermakna tidak mungkin dia mengalami kesakitan diduburnya, seperti yang didakwa.

Pemeriksaan doktor menolak kemungkinan Saiful telah diliwat. Dengan lain perkataan, Mohd. Saiful Bukhari Bin Azlan tidak mengalami apa-apa kesakitan diduburnya, dan tidak juga diperkosa atau diliwat.

Saiful kemudiannya memberitahu bahawa dia mahu membuat laporan polis, lantas Dr. mohamed osman mencadangkan dia (Saiful) pergi untuk membuat pemeriksaan kedua dihospital kerajaan. Saiful kemudiannya pergi kehospital kerajaan dan doktor disitu juga mendapati perkara yang sama. Walaubagaimanapun, Saiful masih membuat laporan polis dipondok polis yang terdapat dihospital.


Disebalik semua pengesahan doktor yang mengatakan Saiful tidak pernah diliwat, polis masih meneruskan kes ini. Anwar Ibrahim kemudiannya telah ditangkap oleh kira-kira 20 anggota UTK yang bersenjata dan memakai topeng dihadapan rumahnya walaupun dia telah bersetuju untuk melapur diri kebalai polis pada pukul 2.00 petang seperti yang dijanjikan.Polis kemudiannya telah menahan Anwar didalam lokap sehingga keesokan harinya, malah telah dibawa kehospital untuk pemeriksaan dan mencuba untuk memperolehi sampel untuk tujuan profil DNA walaupun polis sudah pun mempunyai profil DAN Anwar pada tahun 1998 dan doktor-doktor dari dua buah hospital telah mengesahkan Saiful tidak diliwat.Sudah jelas, kerajaan sedang mencuba untuk memalsukan bukti terhadap Anwar dan mencuba untuk membuktikan Anwar bersalah, melalui tuduhan liwat palsu.

Dan siapakah dibelakang konspirasi ini, kalau bukan AG dan IGP, dua pelakon yang sama dengan konspirasi 1998.

Laporan doktor amat jelas. Saiful TIDAK pernah diliwat, sama ada oleh Anwar atau sesiapa pun. Mengapa kerajaan masih meneruskan kes ini terhadap Anwar? Dan mengapa mereka masih mencari doktor itu bersama keluarganya yang sekarang terpaksa bersembunyi?

Pertubuhan-pertubuhan masyarakat, NGO dan Majlis Peguam tidak seharusnya berdiam diri. Polis telah pun menahan doktor tersebut selama tiga hari tetapi masih enggan memalsukan laporannya. Anwar tidak meliwat saiful dan laporan doktor melaporkan dengan begitu jelas. dan polis juga mempunyai salinan laporan yang sama seperti yang disiarkan dibawah supaya mereka tahu apa yang aku tahu. Dan sekarang, rakyat Malaysia sudahpun mengetahui apa yang polis dan aku tahu.... iaitu Saiful tidak pernah diliwat oleh sesiapa pun.

(Posting ini adalah terjemahan kepada artikel yang dibuat oleh Raja Petra..Doctor on the run: police want him to fabricate evidence against Anwar, terjemahan secara bebas oleh Mat Saman Kati )